Page 9 - MODUL SKI 9_
P. 9

Halaman 9

         Masa-masa  revolusi  fisik  pada  tahun  1940-an,  barangkali  menjadi  yang  terberat  bagi  beliau.  Pada  masa
         penjajahan  Jepang,  beliau  sempat  ditahan  oleh  pemerintah  fasisme  Jepang.  Saat  menjadi  tahanan,  beliau
         mengalami penyiksaan fisik hingga salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Namun, pada kurun waktu itu
         pula beliau menorehkan “tinta emas” pada lembaran perjuangan bangsa dan negara Republik Indonesia. Ketika
         Belanda  hendak  kembali  menjajah  Indonesia,  beliau  menyerukan  “Resolusi  Jihad”,  yakni  fatwa  bahwa  setiap
         muslim wajib berjihad membela dan mempertahankan tanah air pada 22 Oktober 1945. Momen tersebut kini
         diperingati  setiap  tahun  sebagai  “Hari  Santri  Nasional”.  Atas  jasa-jasanya,  Ia  ditetapkan  sebagai  “Pahlawan
         Nasional” berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 294 tahun 1964.

         Beberapa  karya  KH.  Hasyim  Asy’ari  adalah:  at-Tibyan  fin  nahyi  an  muqotha’atil  wal  aqarib  wal  akhwan
         (penjelasan  mengenai  larangan  memutuskan  hubungan  kekerabatan  dan  persahabtan),  Adabul  ‘alim  wal
         muta’alim  (akhlak  guru  dan  murid),  al-Mawaidz  (beberapa  nasehat),  Haditsul  maut  wa  asrrus  sa’ah  (hadits
         mengenai  kematian  dan  kiamat),  ar-Risalah  at-Tauhidiyah  (catatan  tentang  ajaran  tauhid  ahlus-sunnah  wal
         jama’ah).

         Jasa KH. Hasyim Asy’ari tentang resolusi jihad telah diangkat ke layar lebar dengan judul “Sang Kiai”. KH. M.
         Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan 7 Ramadhan 1366 Hijriah.
         Jenazah beliau dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
   4   5   6   7   8   9