Page 6 - MODUL SKI 9_
P. 6

Halaman 6

         (keterbelakangan)  umat  Islam.  Oleh  karena  itu,  pemahaman  keagamaan  yang  statis  ini  harus  diubah  dan
         diperbarui  melalui  gerakan  purifikasi  atau  pemurnian  ajaran  Islam  dengan  kembali  kepada  al-Qur’an dan  al-
         Hadits.

         Pada tahun 1888 KH. Ahmad Dahlan pulang ke kampong halamannya. Sepulangnya dari Makkah, beliau diangkat
         menjadi Khatib Amin di lingkungan Kasultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902‒1904, beliau menunaikan ibadah
         haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah.

         Sepulang dari Makkah, beliau menikah dengan Siti Walidah, yakni saudari sepupunya sendiri, anak Kiai Penghulu
         Haji  Fadhil.  Kelak,  Siti  Walidah  dikenal  sebagai  Nyai  Ahmad  Dahlan,  seorang  pahlawan  nasional  dan  pendiri
         Aisyiyah (organisasi kewanitaan Muhammadiyah). Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan
         memiliki  enam  orang  anak,  yaitu  Djohanah,  Siradj  Dahlan,  Siti  Busyro,  Irfan  Dahlan,  Siti  Aisyah,  serta  Siti
         Zaharah.  Selain  itu,  KH.  Ahmad  Dahlan  pernah  pula  menikahi  Nyai  Abdullah,  janda  H.  Abdullah.  Beliau  juga
         pernah  menikahi  Nyai  Rum,  adik  Kiai  Munawwir  Krapyak.  KH.  Ahmad  Dahlan  juga  mempunyai  putra  dari
         perkawinannya  dengan  Ibu  Nyai  Aisyah  (adik  Ajengan  Penghulu)  Cianjur  yang  bernama  Dandanah.  Beliau
         pernah pula menikah dengan Nyai Yasin yang berasal dari Pakualaman, Yogyakarta

         Pada  tahun  1912,  KH.  Ahmad  Dahlan  mendirikan  organisasi  Muhammadiyah  untuk  mewujudkan  cita-cita
         pembaruan  Islam di  nusantara. Beliau  ingin  mengadakan  suatu  pembaruan  dalam  cara  berpikir dan  beramal
         menurut tuntunan agama Islam. Beliau mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan
         Al-Qur’an  dan  Al-Hadits.  Perkumpulan  ini  berdiri  pada  tanggal  18  November  1912.  Sejak  awal,  KH.  Ahmad
         Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik, tetapi bersifat sosial dan terutama
         bergerak di bidang pendidikan.

         Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini sempat mendapatkan pertentangan dan perlawanan,
         baik  dari  keluarga  maupun  masyarakat  sekitarnya.  Bahkan,  ada  pula  orang  yang  hendak  membunuh  beliau.
         Namun rintanganrintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita
         dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua tantangan tersebut.

         Pada  tanggal  20  Desember  1912,  KH.  Ahmad  Dahlan  mengajukan  permohonan  kepada  Pemerintah  Hindia
         Belanda  agar  organisasinya  mendapatkan  status  badan  hukum.  Permohonan  itu  baru  dikabulkan  pada  tahun
         1914 melalui Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Namun, izin itu hanya berlaku untuk
         daerah  Yogyakarta  dan  organisasi  hanya  boleh  bergerak  di  daerah  Yogyakarta.  Pemerintah  Hindia  Belanda
         khawatir akan perkembangan organisasi ini sehingga kegiatannya pun dibatasi.

         Walaupun ruang gerak Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, dan Imogiri
         telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan Pemerintah Hindia Belanda.
         Untuk  menyiasatinya,  maka  KH.  Ahmad  Dahlan  menganjurkan  agar  cabang-cabang  Muhammadiyah  di  luar
         Yogyakarta memakai nama lain, misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Makassar, dan di Garut dengan
         nama Ahmadiyah. Adapun di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat
         bimbingan dari cabang Muhammadiyah.

         Sebagai  seorang  demokrat  dalam  melaksanakan  aktivitas
         gerakan dakwah, KH. Ahmad Dahlan memfasilitasi para anggota
         Muhammadiyah  untuk  proses  evaluasi  kerja  dan  pemilihan
         pemimpin organisasi. Selama hidupnya dalam aktivitas dakwah
         Muhammadiyah,  telah  diselenggarakan  dua  belas  kali
         pertemuan anggota (sekali dalam setahun), di mana pada saat
         itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum)

         Di usia 66 tahun, tepatnya pada 23 Februari 1923, KH. Ahmad
         Dahlan  wafat  di  Yogyakarta.  Beliau  kemudian  dimakamkan  di
         Karang  Kuncen  (Karangkajen),  Yogyakarta.  Atas  jasa-jasa  KH.  Ahmad  Dahlan,  maka  pemerintah  Republik
         Indonesia menganugerahi beliau gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan
         tersebut dituangkan dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, pada 27 Desember 1961. Dasar-dasar penetapan
         itu adalah sebagai berikut.
   1   2   3   4   5   6   7   8   9