Page 5 - MODUL SKI 9_
P. 5
Halaman 5
Sebelum berangkat ke tanah suci, beliau dinikahkan dengan seorang putri yang bernama Bajut sebagai sarana
untuk mengikat perasaan dengan keluarga di tanah air. Di antara gurunya yang sangat berpengaruh adalah Syekh
‘Athaillah yang pernah memberikan izin kepada Muhammad Arsyad al-Banjari untuk mengajar dan memberi
fatwa di Masjidil Haram. Selama belajar di tanah Suci ia berteman dengan para ulama, di antaranya sebagai
berikut.
1. Syaikh Abdus Samad al-Palimbani.
2. Abdul Wahab Bugis dari Makassar yang kemudian menjadi menantunya (dinikahkan dengan Syarifah binti
Muhammad Arsyad al-Banjari).
3. Syaikh Abdurrahman Masri dari Jakarta.
Langkah pertama yang dilakukan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari sekembalinya dari belajar di tanah suci
adalah membina kader-kader ulama. Ia meminta kepada Sultan Tamjidillah sebidang tanah untuk dijadikan
sebagai pusat pendidikan. Di tempat itu, dibangun rumah tinggal, ruang belajar, perpustakaan, serta asrama bagi
para santri.
Berkat perjuangan keras beliau dengan dibantu menantunya akhirnya pusat pendidikan tersebut ramai
dikunjungi para santri dari berbagai daerah. Tempat tersebut hingga saat ini dikenal dengan nama “Kampung
dalam Pagar”. Sebab, para santri yang belajar dilarang meninggalkan tempat tersebut tanpa izin.
Muhammad Arsyad al-Banjari juga aktif menulis buku. Di antara karyanya yang terbesar adalah kitab yang
berjudul Sabilul Muhtadin (Jalan Orang yang Mendapat Petunjuk). Karena keilmuan beliau yang luar biasa,
Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat julukan “Matahari Agama” dari Banjar.
BAB VII
BIOGRAFI TOKOH PENDIRI ORGANISASI KEAGAMAAN DI INDONESIA
1. KH. Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy.
Beliau lahir dari kedua orang tua yang dikenal alim, saleh, dan
shalihah, yaitu KH. Abu Bakar selaku Imam Masjid Besar Kauman
Kasultanan Yogyakarta serta Nyai Abu Bakar (putri H. Ibrahim,
Penghulu Kraton Kasultanan Yogyakarta). Silsilah KH. Ahmad
Dahlan adalah keturunan ke dua belas dari Maulana Malik Ibrahim,
seorang wali yang termasuk Walisongo serta dikenal sebagai salah
satu ulama penyebar dan pengembang Islam di tanah Jawa. Garis
nasab KH. Ahmad Dahlan adalah putra KH. Abu Bakar bin KH.
Muhammad Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Demang
Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin
Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana
Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin
Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim.
KH. Ahmad Dahlan dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil.
Di lingkungan itulah beliau menimba berbagai disiplin ilmu dan
pengetahuan, termasuk agama Islam dan bahasa Arab. Pada tahun
1883, saat masih berusia 15 tahun, beliau menunaikan ibadah haji
sekaligus bermukim selama lima tahun di Makkah guna mendalami ilmu agama dan bahasa Arab. Dari situlah
beliau berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaruan dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh,
Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha, serta Ibnu Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam tersebut
mempunyai pengaruh kelak di kemudian hari sehingga menampilkan corak keagamaan yang sama dengan kaum
pembaharu. Muhammadiyah merupakan organisasi kemasyarakatan yang bertujuan memperbarui pemahaman
keagamaan. Dalam hal ini, paham keislaman di sebagian besar dunia Islam saat itu masih bersifat ortodoks
(kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, jumud (stagnasi), serta dekadensi

