Page 15 - Kumpulan cerita anak
P. 15

diri dari terjangan air danau  kotor, yang sekarang memenuhi
           kampung.
               Aku panik ketakutan. Tapi Ibu bilang, aku harus tenang.

               Beberapa  hari  kemudian    banjir  surut  menjadi  semata
           kaki.  Dari  luar  rumah  terdengar  suara  kecipak  air.  Banyak
           anak seumuranku bermain kejar-kejaran. Baju mereka basah
           terciprat  air.  Di  sana  ada  Ferdi  yang  melambaikan  tangan

           menyuruhku  keluar.  Tanpa  disuruh  dua  kali,  aku  keluar
           menghampirinya.
               “Lihatlah!  Ada  pelangi.  Pelangi  itu  seperti  berasal  dari
           arah danau. Ayo kita ke sana,” ajak Ferdi.

               Aku tertawa, “Tidak mau ah. Airnya bau.”
               “Eh, kamu belum dengar ya? Orang-orang berkata, pabrik
           itu  telah  hancur.  Rusak  diterjang  banjir.  Semua  alatnya
           terendam air. Kini warga sepakat untuk tidak akan mengizinkan

           jika pabrik itu dibangun kembali. Mereka takut banjir kembali
           datang. Hutan itu akan kembali ditanami pohon.”
               Aku tersenyum. Sambil memandang pelangi yang jauh ke
           arah danau. Sekarang aku merasa sudah menemukan ujung

           pelangi itu.
               Aku  berterimakasih  pada  Ferdi.  Aku  bahagia  memiliki
           sahabat  setia.    Aku  juga  bahagia  memiliki  Ayah  dan  Ibu,
           orangtua  terbaikku.    Kehadiran  mereka  melebihi  nilai  koin

           emas.  Dan  kampung  ini  adalah  tempat  paling  hebat  yang
           kumiliki. Melebihi hebatnya guci, tempat dimana koin-koin
           emas itu berada. [*]






           10                   10 Naskah Terbaik Lomba Menulis Cerita Anak (LMCA) Tahun 2015
   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20