Page 14 - Kumpulan cerita anak
P. 14

mau kalah. Tapi satpam itu tampaknya makin marah. Ferdi
              menarik tanganku dengan keras. Ia hampir menangis, “Ayo
              kita pergi saja! Percuma melawan satpam.”

                  Tak  ada  pilihan  selain  pergi.  Daripada  dipukul  dengan
              tongkat Si Satpam pabrik.
                  Aku berjalan lesu.Tidak bicara selama perjalanan pulang,
              walaupun Ferdi berusaha mengajakku berbicara. Aku memang

              begitu kalau sedang kesal. Di rumah pun aku murung. Sampai
              Ayah mengajakku bicara.
                  “Alfi,  kenapa  sih?  Kok  murung  terus?”  Ayah  bertanya
              sambil mengelus punggungku.

                  Aku mendengus pelan, “Tidak ada apa-apa.”
                  Ayah terkekeh pelan, “Masa sih? Kok wajahnya cemberut?
              Cerita dong!”
                  Aku  akhirnya  mengalah,  menceritakan  semua  kejadian

              yang membuatku kesal.
                  “Oh begitu, biar sajalah. Kita tidak berani melawan, kalau
              pemerintah  sudah  mengizinkan.  Nanti  juga  mereka  kena
              batunya.”

                                           ***

                  Hari  berganti  hari.  Minggu  berganti  minggu.  Bulan
              berganti bulan. Sudah dua tahun  yang lalu ketika aku dan
              Ferdi mencari ujung pelangi. Di pagi hari itu, terjadi keributan

              besar. Banjir bandang terjadi. Danau dekat pabrik kini meluap.
              Menerjang apa saja yang dilewatinya. Ayah dan Ibu berlari
              menuju kamarku yang berada di lantai dua. Menyelamatkan





              10 Naskah Terbaik Lomba Menulis Cerita Anak (LMCA) Tahun 2015  9
   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19