Page 6 - Edisi 119 Agustus 2014 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 6
Lebaran dan Larangan O l e h :
Berlebih-Lebihan Noor Shodiq Askandar
Dekan Fakultas Ekonomi
Unisma
SEBAGAIMANA tulisan garan, dengan menggunakan yang terkadang melebihi ke- menafkahkan (hartamu) pada
saya pada edisi sebelumnya, kendaraan tidak sebagaimana mampun ekonomi yang sebena- jalan Allah, maka diantara
lebaran saat ini bagi ma- peruntukannya. Sesampai di rnya. Tetapi juga harus selalu kamu ada orang yang kikir dan
syarakat muslim tidak hanya kampung halaman, baju baru, memperhatikan tata laku dalam siapa yang kikir sesungguhnya
sebagai perayaan kesuksesan kendaraan baru yang terkadang melakukan aktivitas konsumtif, dia hanyalah kikir trehadap
melakanasakan puasa ramadlan juga hasil sewa, serta segala agar tidak kembali mengulang dirinya sendiri (Muhammad
satu bulan. Akan tetapi juga pernak-pernik asesoris yang kesalahan dengan melakukan 38)”. Keempat, peringatan
merupakan bagian dari upaya menunjang penampilan ditun- berbagai aktivitas yang tidak Rasulullah saw tentang peng-
menunjukkan eksistensi diri jukkan agar terkesan fashion- melanggar ajaran agama. gunaan harta : “Sesungguhya
akan kesuksesan yang telah able. Ajaran Islam telah mem- Allah menjadikan dunia ini
diraihnya di kampung halaman. Memang ini semua tidak ada berikan beberapa patokan atas tiga bagian : Bagi orang
Baik yang belum sukses, sedang yang salah, sepanjang dilakukan dasar. Pertama, tidak boleh mukmin dipergunakan un-
sukses atau telah sukses dalam sesuai kemampuan dan tidak melakukan pemenuhan secara tuk bekal akhirat, bagi orang
kurun waktu yang lama, semua mengurangi makna lebaran berlebih-lebihan. Firman Allah munafiq ; dipergunakan untuk
ingin menunjukkan apa yang untuk mengurangi dosa dengan : “Janganlah kamu berlebih- perhiasan, dan bagi orang kafir
telah diraihnya. Hal ini sangat bersilaturrohmi untuk saling lebihan, sesungguhnya Allah ti- ; dipergunakan untuk memnuhi
terlihat dari perilaku warga ma- memaafkan. Setelah puasa satu dak menyukai (Al An’am 141)”. nafsunya (HR. Ibnu Abbas)
syarakat yang merantau ketika bulan dengan janji jika dilak- Kedua, dalam membelanjakan Kini saatnya kita semua
mudik dengan segala pernak sanakan dengan keimanan dan harta kekayaan dilarang berlaku melakukan refleksi diri atas
perniknya. keihlasan akan keihlasan akan boros, sebagiamana firman Al- apa yang kita lakukan pada saat
Mudik lebaran seakan telah diampuni dosanya yang telah lah : “Sesungguhnya pemboros- lebaran ini. Bisa jadi sudah, bisa
menjadi bagian dari gaya hidup. lalu oleh Allah swt (Man shoma pemboros itu adalah saudara juga belum. Akan tetapi bisa
Jutaan orang rela melakukan imanan wahtisaban ghufiro lahu syaitan dan syaitan ini adalah juga kita lupa bahwa yang telah
perjalanan panjang yang me- ma taqoddama min dzanbih), sangat ingkar kepada Tuhannya kita lakukan sedikit melenceng
lelahkan dengan berbagai alat bulan syawal saatnya saling (Al Isro’ 27)”. Ketiga, anjuran dari norma-norma agama.
transportasi. Ada yang mudik memaafkan untuk menghapus untuk menafqohkan sebagian Semoga Allah swt memaafkan
gratis, menggunakan kendaraan doa hak adam. kekayaan yang dimilikinya setiap yang kesalahan yang
umum, kendaraan pribadi baik Dengan demikian, lebaran untuk kepentingan di jalan Al- telah kita lakukan. Semoga
mobil maupun motor, dan yang bukan hanya saat pesta ke- lah dan larangan kikir. Firman juga, antar sesame kita juga
lainnya. Bahkan terkadang menangan dengan menunjuk- Allah : “Ingatlah kamu ini saling memaafkan. Bagaimana
sampai melakukan pelang- kan sesuatu yang serba baru orang-orang yang diajak untuk dengan anda? (*)
6 Majalah Komunitas Sabilillah
Edisi 119 / Agustus 2014 / Thn: 07

