Page 9 - Edisi 122 November 2014 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 9

KH Muhammad Said

                                 Pencetak Ulama Sejati



                                 Kota Santri Malang



                o l e h :
           Abdul Adzim Irsad     (Bagian 4)

        TIDAK lama kemudian, keluarlah Gus  santri itu:“Lha terus, sing tak delok temon-
      Kholidul Azhar, putra angkat Kyai Said, dari  temonan ndek mbale omah iki maeng sopo?”.
      dalam Ndalem sambil kelihatan layu nampak   “Lha  geh  duko  Gus,”  Ya  tidak  tahu,
      habis bangun tidur. Tanpa basa-basi santri  Gus….! jawab santri tadi.
      tadi langsung berkata kepada Gus Kholid:   Di tengah kebingungan keduanya, maka
      “Gus, wonten Kyai Hamid Pasuruan bade  Gus Kholid langsung menghampiri Kyai
      sowan dateng Romo Yai,”.             Said yang baru keluar dari mobil, seraya
        Kholidul Azhar menjawab singkat:”Iyo  berkata: “Abah, wonten...”
      wis mari ketemu kok”.                  Belum selesai berkata, Kyai Said langsung
        Mendengar jawaban itu, santri tadi kaget  menjawab: “Kyai Hamid? Wis.. wis... Abah
      dan terperanjat:”Lho, kepanggih pripun tho  wis ketemu kok.” Kyai Hamid? Sudah, sudah
      Gus. Lha wong Kyai Hamid sak meniko ta-  saya temui kok. Sambil berjalan menuju
      sik nenggo Romo Kyai Said kundur saking  Ndalem.
      tindakan ten masjid ngantos sare wonten   Ada lagi karomah KH Muhammas Said
      ngajenge mihrob”.                    Ketapang. Ini diceritakan sendiri oleh Buya
        “Lho, sopo sing ngomong Abah (Kyai  Suyuthi Dahlan ketika beliau masih sehat
      Said) tindak? Wong iki maeng lho aku metu   Ketika masih muda, Gus Suyuti Dahlan
      teko kamar (habis tidur) Abah karo Kyai  salah satu santri yang bandel. Beliau selalu
      Hamid  isik  temon-temonan  ndek  mbale  berpindah-pindah dari satu pesantren ke
      (ruang tamu) omah”. Mendengar ucapan itu,  pesantren lain. Sampai-sampai, sang Ayah   KH Muhammad Said
      sang santri tambah bingung, karena setahu  (KH Dahlan) kerepotan dengan ulah sang
      dirinya KH Muhammad Said dan Bu Nyai  putra.
      sendang bepergian.                     Kebetulan, sosok Kyai Dahlan adalah  dan pengajar Al-Quran menceritakan bahwa
        Santri itu mengatakan lagi:”Lho, saestu  sosok ulama yang keras dan disiplin tinggi.  dirinya pernah di datangi oleh Habib Lut-
      Gus Romo Kyai Said tasik tindakan, kulo  Karena sumpeknya, sampai-sampai Kyai  fie Yahya Pekalogan. Ketika Habib Lutfie
      ningali piambak wau mios ipun. Pramilo  Dahlan selalu bilang kepada putranya  di Malang, beliau mengatakan bahwa di
      Kyai Hamid nenggo Romo Kyai kundur  Muhammad Suyuti:”kamu boleh pulang  pemakaman Kasin ada beberapa makam
      sakniki ten masjid”.                 ke rumah besok, jika kamu sudah bisa  waliyullah dan. Di antaranya al-Quthb
        Gus Kholidul Azhar menjawab lagi:“Koen  memabaca kitab…… .Dasarnya memang  al-Habib Abdul Qadir Bilfaqih, Pengasuh
      iki yokpo se, dikandani lek Abah karo Kyai  bandel, tetap saja bandel.  Tetapi, karena  Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyah, KH
      Hamid isik temon-temonan ndek mbale kok  Buya Suyuti putra seorang Kyai yang kuat  Badrussalam, KH Muhamamd Jalalain
      gak percoyo?”                        sholat dan tirakat, sehingga tetap saja Suyuti  (Kasin).
        Santri itu semakin tidak percaya, kemu-  Dahlan menjadi seorang Kyai.      Habib Lutfie pernah mengatakan kepada
      dian bilang lagi kepada Gus Azhar:”Mosok   Ahirnya, KH Dahlan masrahne putranya  KH Abdullah Fakih :”ada sinar terang dari
      nggeh Gus, saestu tah? Wong nembe mawon  kepada KH Muhammad Said di pesantren  arah selatan, berarti ada makam Auliya’
      kulo tasik ningali Kyai Hamid wonten  Ketapang. Ternyata, di situlah KH Suyuti  di sana. Ternyata yang di maskud sinar itu
      masjid, sare ten ngajenge mihrob. Lan kulo  Dahlan istiqomah nyantri mendalami ilmu  adalah  berasal  dari  makam  KH  Muham-
      ningali Kyai tindakan lan dereng kondur.”   agama kepada Kyai Said Ketapang. Setelah  mad Said Ketapang”. Sementara di utara,
        Gus Azhar meyakinakan:”Koen iki, di-  di rasa cukup nyantri kepada KH Said Keta-  termasuk KH Nawawi dan Mbah  Thohir
      kandani kok gak percoyo”.            pang, sang Kyai-pun mengisaratkan segera  Bungkuk. Dengan begitu, ternyata Malang
        Di tengah perdebatan antara santri dengan  menikah, padahal Buya Suyuti Dahlan masih  itu banyak dikepung oleh para kekasih Allah
      Gus Kholid, tiba-tiba datang mobil Holden  semangat mencari ilmu.         SWT. Siapa yang sungguh-sungguh belajar
      Kyai Said datang dan berhenti di depan   KH Muhammad Said mengisaratkan  dengan Ihlas di Malang, insa Allah akan
      Ndalem. Keluarlah dari dalam mobil tadi  agar menikahi seorang putri yang bernama  mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
      Kyai Said dan Ibu Nyai. Melihat pemandan-  Kholifah putri dari Bu Nyai Rahmah-Kacuk.   KH. Moh. Said wafat pada tanggal 1
      gan itu, Gus Kholid dan santri tadi menjadi  Dengan izin Allah SWT, Buya Suyuti Dahlan  Desember tahun 1964 dalam usia 63 tahun.
      bingung. “Lho Gus, niku lho Romo Kyai  ahirnya menikah dengan Umi Kholifah atas  Jenazahnya dimakamkan di lingkungan
      nembe kondur saking tindakan.        isarat dari KH Muhammad Said.        Pesantren PPAI Ketapang Kepanjen Malang.
        Kemudian Gus Azhar mengatakan kepada   Ketika KH Abdullah Fakih seorang ulama  Wallau a’lam. (*)

                                                                                             Majalah Komunitas Sabilillah
                                                                                      Edisi 122 / November 2014 / Thn: 07  9
   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14