Page 207 - mewarna pelangi
P. 207

Dia  merenung  wajah  tua  itu  lama-lama.  Rambutnya  yang  dulu

                   hitam kini dipenuhi oleh uban yang memutih. Garis-garis kedut melapisi


                   permukaan kulitnya yang hitam manis. Ayahnya batuk-batuk kecil.




                          Zainal menjawab:


                          “Dah tiba masanya, ayah.”




                          “Masa apa?”




                          Ayahnya benar-benar tidak mengerti. Dia menghisap rokok daun.

                   Berkepul-kepul  asap  yang  memutih  memenuhi  ruang  udara  dan


                   mengipas-ngipas badannya yang kurus seperti lidi dengan kain sepintal

                   yang agak lusuh warnanya. Zainal kembali semula bersuara:


                          “Untuk  membantu  ayah  turun  ke  laut,”  balasnya  lagi.  Setelah

                   puas  memandang  laut  yang  membiru  perlahan-lahan  dia  mengatur


                   langkah lima tapak menghampiri ayahnya dan melabuhkan punggung di

                   atas tikar mengkuang yang sudah usang.




                          “Kau berkelulusan tinggi.” Ayahnya tak putus-putus menyanggah.





                          “Itu  tidak  menjadi  ukuran,  ayah!”  dia  menggeleng-gelengkan

                   kepala.







                                                             207
   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212