Page 151 - FullBook Anatomi Fisiologi
P. 151
134 Anatomi Fisiologi
interstisial dan ke darah. Melalui umpan-balik negatif, testosteron menekan
sekresi gonadotrof hipofisis anterior dan menekan sekresi GnRH oleh sel
neurosekretori hipotalamus. Pada beberapa sel sasaran, misalnya sel-sel di
genitalia eksterna dan prostat, enzim 5-alfa-reduktase mengubah testosteron
menjadi androgen lain disebut dihidrotestosteron (DHT).
FSH bekerja secara tak-langsung merangsang spermatogenesis. FSH dan
testosteron bekerja secara sinergis pada sel Sertoli untuk merangsang sekresi
androgen-binding protein (ABP, yaitu protein pengikat androgen) ke lumen
tubulus seminiferus dan ke cairan interstisial di sekitar sel spermatogenik. ABP
mengikat testosteron, menjaga agar konsentrasinya tetap tinggi. Testosteron
merangsang tahap-tahap akhir spermatogenesis di tubulus seminiferus. Setelah
tingkat spermatogenesis tercapai, sel Sertoli mengeluarkan inhibin, yaitu suatu
hormon protein yang berdasarkan perannya menghambat sekresi FSH oleh
hipofisis anterior. Apabila spermatogenesis berlangsung terlalu lambat, inhibin
yang dikeluarkan berkurang sehingga sekresi FSH meningkat dan laju
spermatogenesis bertambah.
Testosteron dan dihidrotestosteron berikatan dengan reseptor androgen yang
sama, terdapat di dalam nukleus sel sasaran. Kompleks hormon-reseptor
mengatur ekspresi gen, mengaktifkan sebagian gen dan menonaktifkan
sebagian lainnya.
Akibat perubahan-perubahan tersebut, androgen menimbulkan beberapa efek
yaitu:
1. Perkembangan pranatal.
Sebelum lahir, testosteron merangsang pola perkembangan pria pada
duktus-duktus sistem reproduksi dan penurunan testis.
Dihidrotestosteron merangsang pembentukan genitalia eksterna.
Testosteron juga diubah menjadi estrogen di otak yang mungkin
berperan dalam perkembangan bagian tertentu otak pada pria.
2. Perkembangan karakteristik seks pria.
Pada saat pubertas testosteron dan dan dihidrotestosteron
menyebabkan perkembangan dan pembesaran organ-organ seks pria
serta pembentukan karakteristik seks sekunder maskulin. Karakteristik
seks sekunder adalah sifat-sifat yang membedakan pria dan wanita,
tetapi tidak mempunyai peran langsung dalam reproduksi. Sifat-sifat
tersebut meliputi pertumbuhan otot dan tulang yang berakibat bahu

