Page 148 - FullBook Anatomi Fisiologi
P. 148
Bab 8 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi 131
sentromer. Pada spermatosit sekunder, tidak terjadi replikasi DNA. Pada
meiosis II, kromosom-kromosom berjajar di sepanjang lempeng metafase, dan
dua kromatid dari masing-masing kromosom memisah. Pada meiosis II
terbentuk empat sel haploid yang disebut spermatid. Dengan demikian, satu
spermatosit primer dapat menghasilkan empat spermatid melalui dua kali
pembelahan sel yaitu meiosis I dan meiosis II.
Satu proses unik terjadi selama spermatogenesis yaitu sewaktu berproliferasi,
sel-sel spermatogenik gagal menuntaskan pemisahan sitoplasma (sitokinesis).
Sel-sel tersebut tetap berkontak melalui jembatan-jembatan sitoplasma
sepanjang keseluruhan perkembangannya (lihat Gambar 8.7 dan 8.8). Pola
perkembangan tersebut mungkin menjadi penyebab sinkronnya produksi
sperma di bagian tertentu tubulus seminiferus dan separuh sperma mengandung
satu kromosom X dan separuh mengandung satu kromosom Y. Kromosom X
yang lebih besar mungkin membawa gen-gen yang dibutuhkan untuk
spermatogenesis yang tidak dimiliki oleh kromosom Y yang lebih kecil.
Tahap akhir spermatogenesis (spermiogenesis), adalah perkembangan
spermatid haploid menjadi sperma. Pada tahap spermiogenesis ini tidak terjadi
pembelahan, masing-masing spermatid menjadi satu sel sperma. Selama proses
ini, spermatid yang berbentuk bulat berubah menjadi sperma yang langsing
memanjang. Terbentuk akrosom di atas nukleus, yang memadat dan
memanjang, sebuah flagela terbentuk, dan mitokondria bertambah banyak. Sel
Sertoli membuang kelebihan sitoplasma yang terlepas dan sperma dibebaskan
dari hubungannya dengan sel Sertoli, proses ini dikenal sebagai spermiasi.
Setelah itu sperma masuk ke lumen tubulus seminiferus. Cairan yang disekresi
Sel Sertoli mensekresi cairan yang mendorong sperma menuju duktus testis.
Pada tahap ini, sperma belum mampu berenang.
Sperma
Sekitar 300 juta setiap hari sperma menyelesaikan proses spermatogenesis.
Sperma mempunyai panjang 60 µm dan mengandung beberapa struktur yang
sangat diadaptasikan untuk mencapai dan menembus oosit sekunder (Gambar
8.9). Bagian-bagian dari sperma adalah kepala dan ekor. Kepala sperma
berbentuk gepeng dan runcing mempunyai panjang sekitar 4-5 µm. Kepala
mengandung satu nukleus dengan 23 kromosom yang sangat memadat, 2/3
anterior nukleus ditutupi oleh akrosom yaitu suatu vesikel berbentuk topi yang
berisi enzim-enzim yang membantu sperma menembus oosit sekunder supaya
terjadi fertilisasi, yaitu enzim hialuronidase dan protease. Ekor sperma dibagi

