Page 152 - FullBook Anatomi Fisiologi
P. 152

Bab 8 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi                 135


                  melebar  dan  panggul  menyempit;  rambut  wajah  dan  dada  (dalam
                  batas-batas herediter) dan peningkatan rambut pada bagian tubuh lain;
                  penebalan kulit; peningkatan sekresi kelenjar sebasea (minyak); serta
                  pembesaran laring sehingga suara menjadi lebih berat.
              3.  Perkembangan fungsi seksual.
                  Androgen berperan dalam perilaku seksual pria dan spermatogenesis
                  serta  dorongan  seks  (libido)  pada  pria  dan  wanita.  Korteks  adrenal
                  merupakan sumber utama androgen pada wanita.
              4.  Stimulasi anabolisme.
                  Androgen  merupakan  hormon  anabolik,  yaitu  hormon  yang
                  merangsang  sintesis  protein.  Efek  hormon  tersebut  massa  otot  dan
                  tulang pada pria lebih berat dibandingkan wanita.

              Produksi testosteron diatur oleh sistem umpan balik negatif (Gambar 8.11).
              Apabila dalam darah konsentrasinya meningkat ke kadar tertentu, testosteron
              menghambat pelepasan GnRH oleh sel-sel hipotalamus sehingga GnRH dalam
              darah porta yang mengalir dari hipotalamus ke hipofisis anterior lebih sedikit.
              Gonadotrop di hipofisis anterior mengurangi sekresi LH sehingga konsentrasi
              LH dalam darah sistemik menurun. Hal ini berdampak sel-sel Leydig pada testis
              menurunkan sekresi testosteron dan terjadi homeostasis. Sebaliknya, apabila
              konsentrasi  testosteron  dalam  darah  turun  terlalu  rendah,  GnRH  kembali
              disekresi oleh hipotalamus, merangsang sekresi LH oleh hipofisis anterior dan
              selanjutnya LH merangsang produksi testosteron oleh testis (Gerald J. Tortora
              and Derrickson, 2011).
              1.  Duktus Sistem Reproduksi Pada Pria
              2.  Duktus Testis

              Cairan  yang  disekresikan  oleh  sel  Sertoli  menimbulkan  tekanan  yang
              mendorong sperma dan cairan mengalir di sepanjang lumen tubulus seminiferus
              dan  kemudian  ke  serangkaian  saluran  sangat  pendek  yang  disebut  tubulus
              rektus. Tubulus rektus bermuara ke suatu jejaring duktus di testis yang disebut
              rete  testis.  Dari  rete  testis,  sperma  mengalir  ke  serangkaian  duktus  eferen
              bergelung di epididimis yang bermuara ke sebuah saluran tunggal yang disebut
              duktus epididimis.
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157