Page 50 - FullBook Anatomi Fisiologi
P. 50
Bab 3 Sistem Pernafasan 33
Gambar 3.3: Anatomi hidung (Paulsen and Waschke, 2015).
Pada proses pernafasan secara khusus rongga hidung berfungsi antara lain:
a. Bekerja sebagai saluran udara pernafasan.
b. Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-
bulu hidung.
c. Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh selaput mukosa
d. Membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara
pernafasan oleh leukosit yang erdapat dalam selaput lendir atau
hidung
Dasar rongga hidung dibentuk oleh rahang atas ke atas rongga hidung
berhubungan dengan rongga yang disebut sinus paranasalis yaitu sinus
maksilaris pada rahang atas, sinus frontalis pada tulang dahi, sinus
sfenoidalis pada rongga tulang baji, dan sinus etmoidalis pada rongga tulang
tapis. Pada sinus etmoidalis keluar ujung-ujung saraf penciuman yang
menuju ke konka nasalis . Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman ,
sel tersebut terutama terdapat pada di bagian atas. Pada hidung di bagian
mukosa terdapat serabut saraf atau reseptor dari saraf penciuman,
(Syaifuddin, 2009).
Di sebelah konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit
terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan
rongga pendengaran tengah . Saluran ini disebut tuba auditiva eustachi yang
menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga
berhubungan dengan saluran air mata atau tuba lakrimalis. Rongga hidung
dilapisi dengan ascular mukosa yang sangat banyak mengandung ascular
yang disebut mukosa hidung. Lendir di sekresi secara terus-menerus oleh

