Page 21 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 21

Seperti  kita  ketahui  efek  beragun  aset  (EBA)  yang  bersumber  dari
               subprime  mortgage  mengalami  penurunan  nilai  jualnya,  yang  kemudian
               membuat  para  investor  yang  menanamkan  modalnya  di  efek  beragun  aset
               (EBA)  subprime  mortgage  merugi.  Kondisi  ini  kemudian  menyebabkan
               kepanikan pasar di seluruh dunia. Kepanikan juga berimbas pada investor-
               investor di lantai bursa efek Indonesia hingga sempat ditutup.

                    Krisis  subprime  mortgage  AS  merupakan  krisis  berantai  yang
               ditimbulkan  oleh  investor  yang  tidak  memperhatikan  faktor  fundamental
               portofolio yang dibelinya, manajer investasi, manajer properti dan lembaga
               keuangan  dan  perbankan       yang  hanya  mengejar  keuntungan  tanpa
               mempertimbangkan nilai-nilai yang terkandung dalam tata kelola perusahaan
               yang  baik  (good  corporate  governance/GCG)  yakni  aspek  transparansi,
               akuntabilitas, aspek responsibilitas.

                    Kasus  subprime  mortgage  merupakan  tragedi  ekonomi  yang  memiliki
               hubungan langsung dengan manajemen risiko, budaya perusahaan, GCG dan
               moralitas para manajer perusahaan dalam mengelola risiko pada perusahaan
               itu sendiri. Efek dari kasus tersebut merangsek masuk ke bursa saham AS dan
               merambat  ke  bursa-bursa  saham  di  berbagai  negara  di  dunia  serta
               menyebabkan kepanikan di kalangan para investor di berbagai belahan dunia.

                    Joseph E Stiglitz dalam bukunya The Roaring Nineties: A New History Of
               The World’s Most Prosperous Decade (2003), menjelaskan bahwa kini , rata-
               rata  orang  amerika  yang  berhutang  bukan  petani  ,  pengusaha,  pedagang
               (sektor produktif) melainkan orang-orang yang menjadi pegawai Konsumtif.
               Ada  kecenderungan  terjadi  overconsumption  dan  gaya  hidup  besar  pasak
               daripada tiang. Bangsa amerika adalah bangsa yang sangat konsumtif dan data
               2005  menunjukan  bahwa  rata-rata  orang  amerika  berbelanja  5%  diatas
               pendapatan yang diterimanya.


                    Pada  saat  sebelum  krisis  terjadi  cukup  banyak  KPR  subprime  yang
               memiliki turunan produk derivatif (turunan). Produk-produk derivatif inilah
               biang  keladi  terjadinya  krisis  dan  menjadi  effect  yang  berdampak  buruk
               terhadap perekonomian AS. Diperkirakan nilai KPR Subprime AS mencapai
               US$ 605 Miliar.







                                                    4
   16   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26