Page 26 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 26

Selain  itu  turun  kepercayaan  para  kreditor  dan  investor  di  luar  negeri
               membuat mereka kian sulit untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi saat
               itu.  Kondisi  meningkatnya  country  risk  negara  dan  turbulensi  lingkungan
               eksternal  bisa  menjadi  lebih  parah  jika  pemerintah  tidak  segera
               merestrukturisasi perusahaan terutama perusahaan yang bersentuhan langsung
               dengan sektor riil seperti perusahaan daerah dan UMKM di daerah.

                    Tak  dapat  dipungkiri  krisis  ekonomi  tahun  1997-1998  merupakan
               pengalaman  pahit  bagi  negeri  ini  ,  dampak  krisis  sangat  besar  bagi  dunia
               usaha. Para pelaku bisnis yang mengandalkan bahan baku impor  mengalami
               kebangkrutan . Sektor riil mengalami kehancuran akibatnya terjadi kenaikan
               yang signifikan pengangguran yang tentunya berdampak langsung pada sektor
               keuangan.

                    Data badan pusat statistik menunjukan bahwa krisis ekonomi di Indonesia
               dimulai pada kuartal terakhir 1997. Kala itu hampir sebagian besar perusahaan
               tidak  mampu  membayar  kreditnya  pada  sektor  perbankan,  akibatnya  rasio
               NPL (non performing loan) yang meningkat. Peningkatan tersebut berdampak
               pada penurunan CAR perbankan nasional, sehingga banyak bank mengalami
               kebangkrutan dan dilikuidasi  . Akibat  lanjutannya  , pertumbuhan ekonomi
               menjadi 0%, dan kemudian terus mengalami penurunan secara tajam menjadi
               kontraksi sebesar -7,9 % pada kuartal I  1998, -16,5 persen kuartal II 1998,
               dan -17,9 persen kuartal III 1998. Laju inflasi tercatat hingga agustus 1998
               mencapai 54,54%, dengan angka inflasi februari 1998 menjadi 12,67%.

                    Indeks harga saham gabungan (IHSG) bursa efek jakarta (BEJ) (kini bursa
               efek Indonesia/BEI) anjlok ke titik terendah 292.12 poin pada 15 September
               1998, dari 467,339 pada awal krisis 1 Juli 1997. Sementara kapitalisasi pasar
               menciut drastis dari Rp. 226 triliun menjadi Rp. 196 triliun pada awal juli
               1998.


                    Gejolak  di  pasar  uang  pun  tak  terhindarkan  karena  bank  Indonesia
               menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70,8% dan
               surat berharga pasar uang (SBPU) menjadi 60% pada juli 1998 (dari masing-
               masing  10,87  persen  dan  14,75  persen  pada  awal  krisis).  Perbankan
               mengalami negative spread dan tidak mampu menyuplai dana pada sektor riil.







                                                    9
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31