Page 27 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 27
Sektor ekspor yang menjadi harapan untuk menyelamatkan, juga
mengalami masalah yang sama akibat beban utang , kesulitan trade financing,
dan ketatnya persaingan global. Di saat yang sama, ekspor migas anjlok
sekitar 34,1 persen dibandingkan periode sama 1997, sementara ekspor
nonmigas hanya tumbuh 5,36 persen.
Secara mikro, krisis moneter 1997-1998 membuat banyak perusahaan,
terutama yang menengah besar mengalami kemerosotan cash flow dan
ketimpangan neraca modalnya yang parah . Akibatnya kinerja perusahaan dan
realisasi penerimaan dari hasil penjualan untuk pasar domestik maupun pasar
ekspor pun mengalami penurunan drastis. Akibat lanjutnya banyak
perusahaan yang gagal memenuhi kewajiban membayar hutang yang telah
jatuh tempo sesuai perjanjian kredit yang telah disepakati sebelum krisis.
Kelesuan di sektor riil ini kemudian menimbulkan permasalahan berantai
pada dunia perbankan nasional Indonesia. Banyak bank mengalami masalah
likuiditas yang serius. Bank Indonesia melalui badan penyehatan perbankan
nasional (BPPN) yang dibentuk pemerintah untuk mengawasi puluhan bank
bermasalah mencoba mengatasi masalah dengan mengeluarkan Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), sebesar Rp.147,7 Triliun kepada 48 bank.
Penyaluran tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan Indonesia dengan
IMF dalam mengatasi masalah krisis. Bantuan tersebut ternyata menyebabkan
manipulasi besar-besaran. Usaha yang diberikan pemerintah ini tidak
memberikan hasil karena pinjaman bank bermasalah tersebut semakin
membesar. Oleh karena itu , pemerintah harus menanggung utang yang sangat
besar.
Tabel 1.1:
Penerima dana BLBI
No Nama Penerima Nama Bank Keterangan
1 Agus Anwar Bank Pelita
2 Hashim Djojohadikusumo Bank Papan
Sejahtera
Bank Pelita
Istimarat
3 Samadikun Hartono Bank Modern
10

