Page 29 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 29
BI kemudian menutup sekitar 66 bank dari 237 lembaga perbankan
nasional 9 bank swasta dan 4 bank pemerintah di merger, 12 bank diambil alih
oleh negara dan beberapa bank diambil oleh bank asing.
Untuk mengatasi persoalan krisis berkepanjangan tersebut pemerintah
kemudian mengeluarkan obligasi untuk menyelamatkan keberadaan bank-
bank yang akibat rapuh di sektor riil. Tentu kita semua memahami
keberhasilan bisnis perbankan nasional tergantung pada keberhasilan sektor
riil. Meskipun demikian masih banyak faktor-faktor lainnya yang juga dapat
mempengaruhi kondisi perbankan nasional.
Menurut Fischer (1998), sesungguhnya pada masa kejayaan negara-
negara Asia tenggara, krisis beberapa negara, seperti Thailand, Korea Selatan,
dan Indonesia, sudah bisa diramalkan meski waktunya tidak dapat dipastikan.
Misalnya negara Thailand dan Indonesia, mengalami defisit neraca
perdagangan terlalu besar dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun, disisi lain kondisi pasar properti dan pasar modal di dalam negeri
berkembang pesat tanpa terkendali. Sebab lain menurut fisher, nilai tukar mata
uang Indonesia dan Thailand dipatok terlalu rendah terhadap dolar AS, hal ini
menyebabkan kecenderungan besar dunia usaha di dalam negeri untuk
melakukan pinjaman luar negri , sehingga banyak perusahaan dan lembaga
keuangan di negara-negara itu menjadi sangat rentan terhadap resiko
perubahan nilai tukar valuta asing. Dan yang terakhir sistem pengawasan
keuangan oleh otoritas moneter di thailand dan Indonesia yang sangat longgar
hingga kualitas pinjaman portofolio perbankan sangat rendah.
Sementara menurut McLeod (1998), krisis rupiah di Indonesia adalah
hasil dari akumulatif kelemahan pemerintah dalam menjalankan kebijakan
ekonomi selama pemerintahan orde baru, termasuk kebijakan moneter yang
mempertahankan nilai tukar rupiah pada tingkat yang overvalued.
Pandangan bahwa sebelumnya yang menyatakan fundamental ekonomi
Indonesia dimasa lalu cukup kuat oleh Bank Dunia ternyata hanya di
permukaan, Bank Dunia tidak mengkaji lebih dalam tentang lemahnya sistem
dan manajemen perusahaan di Indonesia. Bank Dunia hanya mengacu pada
teori fundamental ekonomi yang kuat dari pertumbuhan ekonomi yang cukup
tinggi, laju inflasi terkendali, cadangan devisa masih cukup besar dan realisasi
anggaran pemerintah masih menunjukan sedikit surplus.
12

