Page 34 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 34
dan terus menerus dan utang luar negeri jangka pendek yang sudah
melewati batas normal.
2) Anwar Nasution (1998:28) melihat besarnya defisit neraca berjalan
dan utang luar negeri ditambah lemahnya sistem perbankan nasional
sebagai akar terjadinya krisis finansial.
3) Eichengreen dan Wyplosz (1993), Martinez-Peria (1998), dan
Obstfeld (1986), menyatakan bahwa krisis ekonomi terjadi karena
hancurnya sistem penentuan kurs tetap di Negara – negara yang
fundamental ekonomi atau pasarnya baik.
4) Dalam pandangan Bank Dunia ada empat penyebab utama krisis
ekonomi (World Bank, 1998,pp. 1.7-1.11), yaitu : a) akumulasi utang
swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992-1997; b) lemahnya
sistem perbankan; c) lemahnya praktik GCG di kalangan dunia usaha;
dan d) lemahnya kemampuan pemerintah menangani krisis atau
ketidakpastian politik. Dalam kasus Indonesia, pemerintah tak mampu
menangani krisis politik pasca Pemilu dan keraguan publik tentang
kesehatan Presiden Soeharto.
5) Lepi T.Tarmidi berpendapat bahwa penyebab utama krisis ekonomi
adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sedangkan
faktor penunjangnya adalah:
a) Sistem devisa yang dianut terlalu bebas tanpa adanya pengawasan,
yang menyebabkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-
masuk secara bebas.
b) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah, berkisar antara 2,4%
(1993) hingga 5,8% (1991) antara tahun 1998 hingga 1996,
menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued.
c) Permasalahan utang luar negeri swasta jangka pendek dan
menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang
berat akibat tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang
yang jatuh tempo beserta bunganya, ditambah sistem perbankan
nasional yang lemah.
d) Spekulan asing yang dikenal hedge funds yang melepas cadangan
devisa dimiliki Indonesia pada saat, karena praktek margin
trading.
e) Kebijakan fiskal dan moneter yang tidak konsisten dalam sistem
nilai tukar.
17

