Page 35 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 35

f)  Defisit  neraca  berjalan  yang  terus  membesar  )IMF  Research
                           Department Staff: 10; IDE), disebabkan laju peningkatan impor
                           barang dan jasa melebihi jumlah ekspor dan meningkatnya jumlah
                           pembayaran bunga pinjaman.
                      g)  Penanaman modal asing portofolio yang membeli saham besar-
                           besaran  dengan  iming-iming  keuntungan  yang  besar  yang
                           ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil, namun
                           mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar.
                      h)  IMF  membantu  setengah  hati  dan  terus  menunda  pengucuran
                           bantuan  yang  dijanjikannya  dengan  alasan  pemerintah  tidak
                           melaksanakan  50  butir  kesepakatan  dengan  baik.  Dan  Negara-
                           negara sahabat yang menjanjikan akan membantu, juga menunda
                           bantuannya menunggu sinyal dari IMF.
                      i)  Para spekulan dalam negeri meminjam dana dari sistem perbankan
                           untuk bertransaksi saham dan valas.
                      j)  Kepanikan  masyarakat  meluas  dan  membeli  dollar  AS  dalam
                           jumlah  besar,  serta  keinginan  untuk  menarik  keuntungan  dari
                           merosotnya nilai tukar rupiah.
                      k)  Melemahnya nilai Yen Jepang terhadap dollar AS.

                    6) Henry  Paulson  mengatakan  bahwa  faktor  utama  dan  penyebab
                       kebangkrutan  beberapa  bank  besar  di  Amerika  adalah  sistem  mega
                       bonus.  Tentang  hal  ini  Kompas.com  (Kamis,  16/10/2008)  menulis:
                       ‘Sistem (Mega) Bonus Picu Kebangkrutan dan Krisis Global’. Berita
                       tersebut ditulis berdasarkan pernyataan Menteri keuangan Amerika
                       Serikat, Henry Paulson di Washington, AS pada dua hari sebelumnya
                       (14/10/2008).  Paulson  mengatakan  bahwa  para  eksekutif  korporasi
                       keuangan  global  merupakan  biang  keladi  utama  penyebab  krisis.
                       Untuk itu, Paulson menyarankan ke depan, agar setiap negara di dunia
                       melakukan pembenahan gaji, bonus, dan perilaku para eksekutif.
                           Isu serupa juga menjadi topik pembicaraan para pakar ekonomi
                       dan  pejabat  politik  di  negara-negara  Uni  Eropa,  Australia,  dan
                       sejumlah  negara  lain.  Mereka  berpendapat  bahwa  krisis  keuangan
                       global  yang  terjadi  sekarang  dinilai  berawal  dari  kecerobohan  para
                       eksekutif  menjalankan  bisnis.  Bahkan,  Ban  Ki-moon,  Sekretaris
                       Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York ikut berbicara. Ia





                                                   18
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40