Page 32 - Warta & Buletin Mingguan GKI Anugerah - Vox Gratia (Edisi 48 - 27 November 2022)
P. 32
RENUNGAN HARIAN GKIA
MERESPONS JANJI ALLAH Selasa |29 November 2022
DOA
M Tuhan, bantulah kami untuk terus memiliki keyakinan bahwa Engkau tidak pernah mengingkari janji-Mu. Namun,
1 lebih dari pada itu, ajarlah kami untuk mampu menanggapi setiap janji-Mu seturut dengan yang Engkau kehendaki.
Demi Kristus Yesus kami berdoa, Amin.
M
2 Kejadian 35:9-15
Ayat mas:
“Aku akan membuat mezbah bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai
aku di jalan yang kutempuh” (Kejadian 35:3b).
M
3 Setelah membaca perikop di atas, bagaimana Yakub merespons perintah dan janji Allah atas dirinya?
P Ketika kita memikirkan tentang relasi antara Allah dan umat-Nya yang digambarkan dengan istilah “perjanjian,” maka kita akan
E mengingat perjanjian antara Allah dengan para bapa leluhur (Abraham, Ishak dan Yakub). Melalui perjanjian Allah dengan para bapa
N leluhur ini, kita bisa melihat bagaimana Allah mengikat dirinya dengan umat-Nya demi mencapai tujuan kekal-Nya, yaitu keselamatan
D bagi seluruh umat manusia. Dan kali ini kita akan belajar bagaimana Allah menghendaki kita hidup dalam hubungan perjanjian
A dengan-Nya.
L Dalam renungan kemarin, kita melihat bagaimana Allah mengadakan hubungan perjanjian dengan Abraham, dan
A Allah sendiri menjanjikan hal-hal besar kepada Abraham, di antaranya: Janji kehadiran-Nya, janji memberkati Abraham menjadi
bangsa yang besar (keturunan yang banyak), Tanah Kanaan sebagai warisannya, dan melalui mereka semua keluarga di bumi akan
M diberkati.
A Abraham menanggapi janji-janji Allah tersebut dengan iman, menerima dan percaya kepada Allah. Dan Abraham terus menanggapi
N janji-janji Allah tersebut dengan ketaatan kepada Allah dalam setiap langkah hidupnya.
Allah juga menegakkan perjanjian-Nya dengan Abraham dengan setiap generasi berikutnya, yang diawali dengan putranya Ishak. Allah
terlibat langsung dalam setiap perjanjian dengan umat-Nya, Ia pun menyatakan janji-Nya kepada Ishak, firman-Nya: “Aku menyertai
engkau; Aku akan meberkati engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu” (Kejadian 26:24).
Dalam menanti janji Allah itu, Ishak dan Ribka terus berdoa kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Demikian juga Ishak menaati
perintah Allah untuk tidak pergi ke Mesir sekalipun bencana kelaparan menimpa mereka. Dan tepat pada waktu-Nya, Allah
menggenapi janji-janji-Nya. Perintah dan janji Allah kepada Abraham dan Ishak disikapi dengan iman dan ketaatan mereka kepada
Allah.
Namun berbeda dengan kisah ayah dan kakeknya, kisah Yakub dimulai dengan “tipu dayanya” demi menerima berkat. Dalam sebagian
besar hidupnya, Yakub bergantung kepada kelicikannya demi bertahan hidup dan demi mencapai keberhasilan, padahal sama halnya
dengan hubungan perjanjian Allah dengan Abraham dan Ishak, Allah juga menuntut ketaatan karena iman dari Yakub.
Di sebagian besar awal kehidupannya, Yakub sudah menempuh jalan berliku hingga akhirnya Ia bertemu dan bergumul dengan Allah.
Dan perlu kita ingat bahwa Perjanjian Allah dengan umat-Nya diprakarsai oleh Allah sendiri dan bersifat rahmat. Untuk merespons
rahmat Allah itu, diperlukan ketaatan karena iman umat kepada-Nya. Berkat kemurahan Allah, Yakub dibawa kepada keputusan untuk
memilih taat pada perintah dan kehendak Tuhan untuk meninggalkan Haran dan kembali ke tanah perjanjian. Allah memperbaharui
janji-janji-Nya.
Akan selalu ada masa, saat kita bergumul dengan respons kita terhadap perintah dan janji Allah. Bukan hal yang tidak mungkin,
apabila kita jatuh, merasa bahwa karena Allah sudah memberikan janji-Nya untuk memberkati, menyelamatkan hidup kita, maka kita
bertindak “semaunya.” Misalnya, melukai saudara kita, menipu kenalan kita, mengabaikan orang-orang yang membutuhkan bantuan
kita, atau mengabaikan perintah-Nya yang lain. Namun, ketika dalam kesulitan, kita “mengklaim” janji Allah.
Kita mungkin mengernyitkan dahi melihat bagaimana Yakub memulai perjalanannya bersama Allah dengan hal yang salah. Namun
rahmat Allah mampu membawa kita berbalik kepada-Nya. C.S Lewis mengingatkan kita bahwa: “Segala jalan adalah milik Allah.”
Allah yang memanggil Abraham bahkan dapat menggunakan jalan yang salah dalam perjalanan hidup manusia, untuk membawa
manusia ke jalan yang benar. Namun, bukan berarti kita membenarkan sikap “semaunya sendiri.”
Marilah kita merespons janji Allah dengan ketaatan karena iman kita kepada-Nya. (MDR)
M Apakah Anda pernah mengalami masa, saat Anda terlena dengan rahmat Allah, sehingga kita mengabaikan perintah
4 Allah atau konkretnya kita tanpa sadar membiarkan diri kita menyakiti orang lain? Ingatlah dalam relasi perjanjian
dengan Allah, ada sikap hidup yang diharapkan dari padanya, yakni iman dan ketaatan kepada Allah dalam setiap langkah
kehidupan kita.
M Sharingkan pengalaman Anda ketika Tuhan membawa Anda berbalik dari jalan yang salah dan dibawa kembali ke
5 jalan yang benar.
32

