Page 35 - Warta & Buletin Mingguan GKI Anugerah - Vox Gratia (Edisi 47 - 20 November 2022)
P. 35
RENUNGAN HARIAN GKIA
LET US NOT BE WEARY (JANGANLAH JEMU-JEMU BERBUAT BAIK) Sabtu |26 November 2022
M DOA
1 Bapa di Surga, mampukanlah kami untuk tidak jemu-jemu berbuat baik sebagaimana rancangan Allah atas hidup
kami. Amin.
M
2 Galatia 6:9-10; Yakobus 4:17; Matius 5:14-16
Ayat mas:
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak
menjadi lemah” (Galatia 6:9).
M
3 Mengapa Rasul Paulus menasihati kita agar tidak jemu-jemu berbuat baik?
P Sepanjang satu Minggu ini kita merenungkan bahwa perbuatan baik merupakan identitas diri dan sekaligus
E cara hidup kita sebagai mahakarya Allah di dalam Kristus. Allah menghendaki kita melakukannya bukan sekali atau sesekali,
N melainkan secara konsisten (terus-menerus) dan progresif (ke arah kemajuan), karena hari Tuhan yang kian mendekat. Namun,
D melakukan kebaikan seperti demikian tidaklah mudah. Kita bisa saja menyerah dan berhenti melakukannya saat kebaikan itu
A merugikan kita, tidak dihargai, disalah-pahami atau saat di tengah situasi yang sulit.
L Itulah yang dialami oleh Jemaat di Galatia. Ada ajaran-ajaran palsu yang menyusup (Galatia 2:4). Perpecahan
A terjadi di dalam Gereja yang digambarkan dengan istilah: saling menggigit, saling menelan, saling membinasakan, gila hormat,
M saling menantang dan saling mendengki (Galatia 5:15, 26). Di tengah situasi yang demikian sulit, godaan untuk menyerah dan
A berhenti berbuat baik mungkin akan muncul. Mereka bisa saja berpikir untuk apa berbuat baik di tengah situasi yang tidak baik.
N Oleh karena itu, Rasul Paulus berusaha menghibur dan meneguhkan orang-orang percaya di Galatia. Ia
berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.” Kata “jemu” memiliki makna menjadi lelah, merasa habis, dan tawar hati.
Artinya, kita tidak boleh sampai kehabisan baterai untuk berbuat baik.
Mengapa demikian? Berdasarkan Galatia 6:9-10, setidaknya ada tiga alasan mengapa kita tidak boleh jemu-
jemu berbuat baik:
Pertama, apa yang ditabur itulah yang akan dituai. Rasul Paulus membandingkan perbuatan baik seperti
menabur benih (Galatia 6:7-9a). Proses menabur dan menuai selalu melibatkan waktu. Saat proses menanam sedang berjalan,
mungkin saja kelihatannya tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan, saat sudah ada pertumbuhan, petani masih harus menunggu
lagi karena tanaman tersebut tidak langsung berbuah. Jika petani melakukan tugasnya untuk menyiram, memupuk, dan
menjaganya dengan baik, barulah usahanya tersebut akan membuahkan hasil. Dengan kata lain, jika kita bertahan menabur
kebaikan – walaupun dalam keadaan yang sulit atau tidak baik – kita akan menuai kebaikan.
Kedua, itu akan membuat kita kehilangan pengharapan. Rasul Paulus mengakhiri Galatia 6: 9 dengan
peringatan jika seseorang tidak menuai, maka ia akan menjadi lemah. Kata ”lemah” memiliki makna menyerah, berhenti, dan
kehilangan harapan untuk melanjutkan apa yang telah dikerjakan. Jadi, seseorang tidak boleh menjadi lelah berbuat baik
karena dapat mengakibatkan kehilangan dorongan dan pengharapan untuk melanjutkan melakukannya sebagaimana yang
Allah kehendaki. Hal tersebut juga akan membuat kita semakin menjauh dari rancangan Allah yang baik atas hidup kita.
Yakobus 4:17 bahkan menyatakan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia
berdosa.”
Ketiga, kesempatan berbuat baik tidak selalu ada. Galatia 6:10 menuliskan sebuah frasa penting, yaitu
“selama masih ada kesempatan bagi kita.” Hal itu menunjukkan bahwa kesempatan untuk berbuat baik sifatnya terbatas, tidak
selalu ada, dan di luar kuasa kita, sehingga harus digunakan sebaik-baiknya.
Mari belajar dari jam dinding. Dilihat orang atau tidak, ia tetap berdenting. Dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar. Walau
tak seorang pun mengucapkan terima kasih, ia tetap bekerja. Setiap jam, setiap menit, setiap detik, ia tetap memberi manfaat
bagi orang sekitarnya.
Oleh karena itu, mari kita tidak jemu-jemu berbuat baik. Walaupun perbuatan baik itu terlihat kecil atau
remeh, mari kita melakukannya dengan setia dan selalu berharap pada kuasa Allah. Jangan kecil hati bila orang tidak
menghargai kebaikan kita.
Mari terus melakukannya karena kesempatan tidak selalu datang menghampiri. Hendaknya kita tidak
menutupi terang kita dengan tetap senantiasa berbuat baik, karena dengan demikianlah Nama Allah akan dimuliakan. (Ve)
M Apakah yang membuat Anda kehabisan baterai atau merasa jemu untuk berbuat baik? Apakah yang menjadi pendorong
4 atau pengharapan agar Anda dapat tetap berbuat baik sebagaimana rancangan Allah atas hidup kita?
M Mari berdoa agar setiap kita dimampukan untuk tidak jemu-jemu berbuat baik sebagaimana rancangan Allah atas
5 hidup kita.
MAHAKARYA ALLAH TIDAK AKAN PERNAH JEMU-JEMU BERBUAT BAIK
35

