Page 33 - Warta & Buletin Mingguan GKI Anugerah - Vox Gratia (Vol.42 - 16 Oktober 2022)
P. 33

RENUNGAN HARIAN GKIA



               DENGAN MENUNJUKKAN SIKAP MENERIMA                                 Kamis | 20 Oktober 2022


        “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah”
        (Roma 15:7)

   P    Kita harus menerima orang lain sebagaimana Yesus menerima kita.
   E    Yesus mengasihi kita bahkan di kala kita sedang berada di saat yang paling buruk, dan ia menunjukkan “kasih-Nya kepada
   N    kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Rm. 5:8). Ia menerima kita menjadi anak-
   D    anakNya yang dikasihi (Ef. 1:6), walaupun kehidupan kita morat-marit, motivasi kita tidak murni, dan sikap kita yang
   A    mudah melukai hati. Penerimaan- Nya atas kita tidaklah berarti Dia setuju dengan dosa; namun penerimaan-Nya
   L    menunjukkan bahwa kita adalah buatan tangan-Nya – kita masing-masing adalah Anak Allah yang dibentuk secara khusus
   A    untuk suatu tujuan tertentu (Ef. 2:10).
   M    Salah satu cara kita untuk saling mengasihi adalah dengan saling menerima sama seperti Yesus menerima kita. Hal ini
   A    membawa kemuliaan bagi Allah. “sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” (Rm. 15:7b).
   N    Akan tetapi penerimaan kita akan orang lain harus termasuk kepada orang belum percaya, karena kita tahu bahwa,
        ketika mereka masih berdosa, Kristus telah mati untuk mereka. “Bukanlah wewenang kita untuk menghakimi mereka
        yang berada di luar jemaat” (1 Kor. 5:12a). Hal ini tidak berarti bahwa kita menyetujui dosa; namun begitu sering
        penolakan kita terhadap mereka yang berada di luar gereja diikuti rasa takut dan prasangka bahwa seseorang harus
        seperti kita dahulu sebelum mereka bisa bersama kita.
        Yesus tidak takut berteman dengan orang yang tidak percaya (Luk.19:7). Ia memandang melampaui dosa dalam
        kehidupan mereka untuk melihat apa rencana Allah sesungguhnya bagi hidup mereka. Ia mengerti bahwa menerima
        orang tidak sama dengan menerima dosa-dosa mereka. Seperti pepatah lama mengatakan, “Kasihilah orang berdosa,
        bukan dosanya”. Salah satu contoh paling baik dari Yesus saat melakukan hal ini adalah di dalam kisah Zakheus, di mana
        Yesus menjumpai pemungut cukai yang dibenci itu sedang duduk di atas pohon (Luk. 19:1-10). Di dalam perjumpaan
        dengan Zakheus ini kita bisa belajar ciri-ciri Kristus dalam menerima sesorang.
        Yang Pertama, tidak peduli di mana kita berada, Yesus menjumpai kita di sana. Kita harus menerima orang belum
        percaya tanpa memedulikan keadaan kehidupan mereka – memandang mereka seperti yang dilakukan Yesus, dengan
        tatapan mata kasih. Yesus mengetahui segala sesuatu yang pernah mereka lakukan, katakan, pikirkan, namun Dia tetap
        mengasihi dan menerima mereka. Demikian pula sepatutnya kita lakukan!
        Salah satu pernyataan paling dalam dari kasih adalah perhatian. Kita menunjukkan kasih Allah kepada orang belum
        percaya saat kita menghabiskan waktu bersama mereka. Waktu adalah anugerah yang tidak ternilai harganya karena
        waktu adalahsesuatu yang tidak pernah dapat diganti dengan apapun. Ada orang di sekitar kita yang begitu rindu
        diperhatikan, yang sangat rindu ada orang yang memberikan mereka hadiah berupa waktu bersama. Mereka perlu tahu
        bahwa mereka berarti bagi Allah, dan bahwa Dia menciptakan mereka dengan suatu tujuan.
        Yang Kedua, tidak peduli orang lain menyebut kita dengan nama apapun, Yesus tahu nama kita. Ketika setiap orang
        menuding Zakheus sebagai orang berdosa, Yesus menyebut namanya dan menjangkaunya dengan persahabatan. Dan
        anugerah persahabatan inilah yang mengubah hati Zakheus. Yesus ingin kita melakukan hal serupa. Dia ingin kita
        menjangkau mereka yang terhilang dengan kasih dan penerimaan-Nya. Dia ingin kita memandang orang lain
        sebagaimana Dia memandang mereka, dan menarik mereka kepada tujuan Kerajaan-Nya melalui kasih sejati dan
        persahabatan.
        Yang Ketiga, tidak peduli apapun yang pernah kita lakukan, Yesus tidak akan menolak kita. Kelakuan baik tidak pernah
        menjadi syarat persahabatan dengan Yesus. Ia mengasihi dan menerima orang-orang tanpa memandang apa yang
        pernah mereka lakukan. Ia jauh lebih tertarik untuk mengubah kita daripada menghakimi kita.
        Jika Zakheus adalah seperti kita, kemungkinan ia berpikir bahwa ia tidak cukup baik untuk mengundang Yesus datang ke
        rumahnya, akan tetapi kenyataannya adalah – Yesus telah melihat semuanya. Tidak peduli apa yang telah kita lakukan,
        Yesus tetap berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada- Ku, dan barangsiapa datang kepada-
        Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Yesus bukan saja mempunyai rencana dan maksud untuk kehidupan kita, ia juga
        mempunyai rencana dan maksud untuk mereka yang belum percaya kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia ingin
        agar kita menjangkau dan menyambut orang lain menjadi keluarga Allah dengan menunjukkan kemurahan hati.


        POKOK PIKIRAN Allah ingin kita menerima orang lain sama seperti Yesus telah menerima kita.

        AYAT HAFALAN “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan
        Allah” (Roma 15:7)

        PERTANYAAN RENUNGAN Siapakah orang di sekitar hidup kita yang kita ingin agar ia menjadi seorang Kristen?
        Bagaimana kita menunjukkan kemurahan hati terhadap mereka untuk bisa membangun jembatan pada Kristus?


                                                                                                         33
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37