Page 34 - Warta & Buletin Mingguan GKI Anugerah - Vox Gratia (Vol.42 - 16 Oktober 2022)
P. 34

RENUNGAN HARIAN GKIA



                 DENGAN MEMBANGUN PERSAHABATAN                                   Jumat | 21 Oktober 2022


        “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi,
        tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai !” (Roma
        12:16) “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” (2 Korintus 5: 20b)

   P    Itulah pesan yang harus kita sampaikan kepada dunia. Tetapi kita menghambat diri kita dalam membagikan Kabar
   E    Baik ini jika teman-teman yang kita miliki hanyalah sesama orang percaya. Yesus, sebaliknya, mengerti bahwa misi-
   N    Nya adalah mencari orang yang tersesat, maka Dia bersahabat dengan mereka yang perlu bersahabat dengan
   D    Allah.
   A    Alkitab mengatakan bahwa ketika orang Farisi melihat Yesus bersahabat dengan orang-orang yang mempunyai
   L    reputasi buruk,”…mereka bereaksi secara emosional, dan menghardik pengikut- pengikut Yesus. “Mengapa
   A    gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata : “Bukan
   M    orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang
   A    Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
   N
        melainkan orang berdosa” (Mat. 9:10-13). Yesus mengetahui tujuan-Nya dan itu membuat Dia nyaman berada di
        tengah-tengah orang yang belum percaya. Dia tidak khawatir ketika orang lain menuduh-Nya menjadi sahabat
        orang-orang berdosa (Luk. 19:7) sebab Dia memang melakukan hal yang sesuai dengan tujuan Bapa mengirim Dia:
        meyakinkan baik laki-laki maupun perempuan untuk memberikan dirinya didamaikan dengan Allah (2 Kor. 5:20).
        Demikian pula, Yesus menghendaki kita menjadi utusan-Nya, dan berbicara atas Nama-Nya kepada mereka yang
        masih “berada di luar”. Namun banyak orang Kristen yang begitu terisolasi dan tidak berhubungan dengan orang
        yang belum percaya sehingga mereka hampir tidak mengadakan pembicaraan yang berarti dengan mereka yang
        belum percaya. Semakin lama kita menjadi pengikut Kristus, semakin kita cenderung terpisah dari orang yang
        belum percaya. Dan seringkali semakin kita menjauh dari mereka, semakin kita merasa tidak nyaman bersama
        mereka. Pada akhirnya, kita tidak lagi menjalin persahabatan dengan orang-orang yang Yesus ingin kita jangkau.
        Yesus mengerti bahwa kesaksian kita kepada orang yang belum percaya dimulai dengan persahabatan: kita berhak
        untuk berbagi Injil melalui hubungan. Intinya adalah: Orang tidak peduli berapa banyak yang kita tahu sampai
        mereka mengetahui seberapa besar kepedulian kita. Orang yang belum percaya, samaseperti sebagian besar dari
        kita, mencari persahabatan yang mendalam, tulus, dan memberi dukungan.
        Rasul Paulus mengatakan bahwa kita hendaknya berusaha mencari “dasar pijakan bersama” dengan orang yang
        belum percaya, sehingga kita dapat menceritakan kepada mereka tentang Kristus : “Segala sesuatu ini aku lakukan
        karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya” (1 Kor. 9:21-23). Mencari dasar bersama menunjukkan sikap
        bersahabat – di mana kita mencari hal yang positif dibandingkan hal yang negatif pada diri mereka yang belum
        percaya.
        Ketika Yesus mulai bercakap-cakap dengan wanita di dekat sumur (Yoh. 4:4-26), Dia mencari dasar bersama
        ketimbang menghakiminya. Akibatnya, wanita itu bukan saja berdamai dengan Allah, ia juga membawa teman-
        teman dan keluarganya kepada Yesus. Kita melihat dari contoh ini bahwa persahabatan kita dengan orang yang
        belum percaya menuntut kita untuk mengerti perbedaan antara mengasihi mereka dengan mengasihi cara hidup
        mereka.
        Dalam Yohanes 3:16a, kita diberitahu, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
        mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” Jelas, Allah mengasihi orang di seluruh dunia – namun itu tidak sama
        seperti mengasihi nilai-nilai dunia. Kita diberitahu: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di
        dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu” (1Yoh. 2:15).
        Membina persahabatan memerlukan :
        • Kesantunan: “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana
        kamu harus memberi ja ab kepada setiap orang” (Kol. 4:6).
        • Frekuensi: Kita harus menyediakan waktu bersama orang yang belum percaya agar menjadi sahabat mereka.
        • Ketulusan: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik”. (Rm. 12:9)
        POKOK PIKIRAN Kasihilah orang-orang di dunia, namun bukan nilai-nilai dunia

        AYAT HAFALAN “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara
        yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara- perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai !”
        (Roma 12: 16)

        PERTANYAAN RENUNGAN Apakah kita memiliki persahabatan yang bermakna dengan orang-orang yang belum percaya?


                                                                                                         34
   29   30   31   32   33   34   35   36   37