Page 408 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 408

IntelIgensI embun PagI

              Pagar  terbuka.  Anjing  herder  yang  terikat  di  leher  itu
           tetap memandanginya dengan tidak bersahabat meski sudah

           berhenti menggonggong. Sambil menenteng koper Bodhi,
           Alfa mengikuti langkah pria itu ke pintu samping yang
           langsung membawanya ke taman dalam. Di seberang taman
           terlihat sebuah bangunan paviliun bercat putih berdiri terpisah
           dari rumah utama. Terlihat seseorang dengan kepala dibalut

           bandana, duduk bersila di teras paviliun yang dilapisi keramik
           merah hati, mata terpejam, kaki terlipat dalam posisi lotus.
              Suara pria yang mengantarnya langsung membisik,  “Itu
           kamarnya Fadil. Ketuk saja, Mas. Tapi, pelan-pelan. Temannya,
           Bodhi, lagi sembahyang.” Hati-hati, ia pun beringsut sambil
           menggiring anjingnya pergi.
              Alfa menghampiri paviliun itu. Bodhi kelihatan begitu
           tenang seperti patung-patung meditasi yang dijual di toko-

           toko. Sayang, Alfa tidak punya waktu untuk menunggu
           patung itu bangun dengan anggun. Setelah meletakkan koper
           di lantai, Alfa menyambar bandana dari kepala Bodhi.
              Mata Bodhi membuka sekaligus. Garang menentang Alfa.
           “Kembalikan.”

              Perhatian Alfa terpusat pada tonjolan berderet di batok
           kepala Bodhi. “Jadi, benar,” desisnya.
              Bodhi merentangkan telapak tangannya tanpa berkata apa-
           apa lagi.
              Alfa malah menarik bandana itu lebih dekat ke arah
           dadanya. “Aku tahu kamu ciuman sama siapa di Bangkok.”



                                                                 393
   403   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413