Page 411 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 411
Keping 74
Bodhi menahan Alfa. “Kamu nggak jadi pulang? Kita lanjut
cari anggota Asko yang lain?”
“Minimal kita foto-foto dulu.” Alfa tersenyum kecil.
Pintu di balik punggung Bodhi membuka. Dua laki-laki
keluar. Yang satu hanya berkaus dan bercelana pendek, yang
satunya mengenakan jins sobek-sobek dan kaus hitam lusuh
bertuliskan Fuck The System.
“Siapa, Bod?” tanya Bong kepada Bodhi, meski Alfa jelas
berdiri di hadapannya.
“Alfa. Kemarin berangkat bareng gue dari Bandung.”
“Bong.” Bong menyorongkan tangannya. “Ini Fadil.”
Alfa bersalaman dengan dua orang itu dan ia bisa merasakan
kecurigaan yang kental, khususnya dari Bong.
Dengan suara menggerung Hijet 1000 yang disopiri oleh Iksan
mendaki dan menuruni jalan di rute Jakarta–Bandung via
Jonggol demi menghindari macetnya rute Puncak. Perjalanan
itu tidak terasa bertambah cepat. Mereka tetap terkunci dalam
kecepatan 40–70 km/jam. Ingin rasanya Toni melecut mobil
tua itu atau mengikatkannya ke belakang salah satu truk
kosong yang melaju kencang melewati mereka.
Sepanjang perjalanan, sekitar lima menit sekali, Toni meraih
ponselnya untuk menghubungi Liong. Nomor itu tidak kunjung
aktif, padahal ia ingat betul belum ada jadwal perubahan
396

