Page 412 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 412

IntelIgensI embun PagI

           nomor. Tidak juga ada kontak dari Liong. Toni menduga kuat
           ia sudah diamputasi dari jaringan Infiltran. Sementara, rahasia
           mahabesar itu terus menyebar di setiap menit yang bergulir.

           Toni tidak bisa dan tidak ingin membayangkan konsekuensi
           apa yang akan dihadapinya nanti.
              Garis penanda baterainya berkurang. Menyisakan satu
           persegi terakhir. “KAMPRET!”
              Iksan menoleh,  “Kenapa sih, Mpret? Kumprat-kampret
           terus dari tadi.”
              Ponsel  Toni tahu-tahu berbunyi.  Terbaca nama Kewoy.
           Buru-buru, Toni mengangkat. “Woy, nggak usah telepon dulu.
           Baterai sudah cekak, nih. Gua di jalan pulang….”

              “Bos! Langganan Supernova, kan?” Terdengar suara Kewoy
           begitu bersemangat.
              Toni, yang tadinya sudah siap memutus telepon, terpaksa
           mendengarkan.
              “Itu… yang tamu Bos kemarin… ternyata bukan perusahaan
           filter air!”
              Toni seketika mendaratkan jempolnya di tombol merah.
           “TAIK!” teriaknya.
              Iksan menoleh lagi. “Nah. Gitu, dong. Variasi.”
              Toni mengembuskan napas panjang. “San, tuh, di depan
           ada jurang. Lumayan. Lu lompat aja. Biar gua yang ngejeblos
           sama mobil.”

              “Enak  dewe, ini kan mobilku satu-satunya!” balas Iksan
           sambil tertawa. “Mbok ya tenang, Mpret. Aku nggak tahu apa
           masalahmu, tapi pasti ada jalan keluar.”


                                                                 397
   407   408   409   410   411   412   413   414   415   416   417