Page 592 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 592

IntelIgensI embun PagI

              “Oke, pasti,” jawab Dimas. Mukanya masih bergambar
           tanda tanya. Begitu pula dengan Reuben.
              Re meletakkan ponselnya. Menyambar segelas air putih.

           Berharap sakit kepalanya memberikan sedikit kelonggaran.
              Interkomnya bersuara lagi.  “Pak  Re, ada tamu yang
           belum punya appointment. Katanya, penting. Dia bilang, dia
           saudaranya… Toni Em-Pret?” kata Irma canggung.
              “Siapa namanya?”
              “Candra.”
              Sekilas, Re membayangkan akan menghadapi perpanjangan
           dari kegilaan serupa yang terjadi di kotak surelnya. Orang-
           orang asing yang tahu-tahu bermunculan entah dari mana

           dan mengaku ini-itu. Namun, Toni tidak mungkin mengirim
           orang sembarangan.
              “Oke. Suruh masuk.”
              Tak lama, pintu terbuka. Dengan tampang enggan, Irma
           mengantarkan seseorang. Setidaknya, ada lima tindikan
           di muka pria bernama Candra, di luar dari bolongan di
           kupingnya yang terisi oleh sebutir kerang. Ia mengenakan jins
           penuh sobekan yang digulung setengah betis, menampakkan
           sepatu bot tinggi yang didereti selusin lubang tali. Jaket jinsnya
           yang bercampur dengan bahan kulit di bagian lengan hampir
           penuh ditempeli emblem. Namun, bukan aspek penampilan
           yang paling mencolok dari pria bernama Candra, melainkan

           tatapannya yang penuh percaya diri. Ia memasuki ruangan Re
           seperti pulang ke rumah sendiri. Tak ada sedikit pun kesan
           terasing.


                                                                 577
   587   588   589   590   591   592   593   594   595   596   597