Page 636 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 636

IntelIgensI embun PagI

              “You’re wrong. Menjadi Peretas adalah posisi yang paling
           terhormat.”

              Nanar, Ishtar menatap Alfa. Air mata kembali mengembang
           di pelupuknya. Kali ini bukan karena bahagia. Lagi dan lagi,
           Alfa menjadi orang yang melukainya. Di antara mereka berdua,
           ia kembali dikutuk menjadi satu-satunya pihak yang ingat.
           “How can you be so blind, Love?” Ishtar terisak. “Mereka bisa

           menggantikanmu kapan pun mereka mau. Kamu cuma jadi
           serdadu. Pion. Tidak ada harganya. Bagiku, kamu segalanya.
           Tidak tergantikan.”
              Tangan Alfa merentang perlahan, menghapus butiran air
           di pipi Ishtar. “Ini tidak mudah buatku,” katanya lirih. “Aku
           tidak pernah ingin menyakitimu. Satu kali pun.”
              Di sela linangan air matanya, Ishtar tersenyum tipis. “Aku
           tahu. Tapi, kamu terus melakukannya, berkali-kali.”

              Alfa menarik Ishtar kembali ke dalam pelukannya. Meresapi
           setiap rasa dan sensasi. Berharap kenangan indrawi itu akan
           menemaninya selama mungkin. “Kamu tahu bahaya terbesar
           untuk seorang Peretas? Menyeberang,” bisik Alfa. “Aku akan
           menyeberang. Kita sudahi ini semua.”

              “Finally,” desah Ishtar.
              Alfa mempererat pelukannya, sementara matanya terpusat
           kepada sesosok hitam yang menyeruak perlahan di sudut bagai
           kelelawar raksasa.
              Perlahan, Ishtar menggeliat keluar dari dekapan Alfa.
           Seiring pelukan mereka yang merenggang, ruangan temaram



                                                                 621
   631   632   633   634   635   636   637   638   639   640   641