Page 203 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 203
KEPING 18
Akhirnya ia pasrah, membiarkan Reuben minggat ke
dapur untuk menemui pacar keduanya. Kafein.
“Menciptakan sosok seorang Avatar bukan pekerjaan
biasa. Beda kalau kamu menciptakan tokoh-tokoh lain.” Ter-
dengar suara Reuben dari kejauhan.
“Nenek-nenek ompong juga tahu,” gerutu Dimas pe lan.
“Avatar abad ke-21 tidak bisa lagi digambarkan naik ke-
ledai, atau pakai kostum mencolok seperti jubah putih pan-
jang, atau terompah Aladdin, atau pelihara janggut sampai
pinggang. Dia harus melebur, pergi ke bioskop, nonton film
Hollywood, nonton televisi, punya kompu ter—”
“Makan di McDonald’s.”
“Pergi ke mal.”
“Tembak-tembakan di Timezone.”
“Mungkin nggak harus seekstrem itu.”
22
“Avatar dengan asktetika modern. Tidak terisolasi di
hutan.”
“Ya. Bukan pertapa ceking yang menghabiskan setengah
hidupnya jadi patung,” sambung Reuben seraya mengaduk
kopinya kali terakhir, siap mereguk. Tiba-tiba ia berhenti,
menatap pusaran butir kopi di gelas itu. Satu sinyal non lokal
telah menjentik bola lampu di kepalanya. Ide!
“Aku tahu!” Teriakan Reuben membahana dari dapur.
Dan, seketika ia menerobos kembali ke kamar kerja, men da-
patkan Dimas yang sudah terduduk saking kagetnya.
22
Pertapaan atau tapabrata.
192

