Page 198 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 198
Dua IDIot abaD ke-21
“Loncatan kuantum sebentar lagi jadi olahraga favorit
mereka,” Reuben pun terkekeh.
Kedua pria itu sejenak mengambil posisi bersantai.
“Hei, jangan bilang kamu bakal bikin kopi lagi,” celetuk
Dimas begitu melihat gelagat Reuben yang mulai resah.
“Dan, jangan bilang juga kamu bakal baca majalah itu
lagi,” Reuben tidak mau kalah.
“Habis mau bagaimana? Ini satu-satunya bacaan ringan di
rumah ini. Mengerikan,” Dimas menggerundel sembari mem-
bolak-balik halaman. “Lama-lama, aku hafal seluruh isinya.”
“Kita bikin ujiannya saja sekalian. Coba, apa isi ha laman
107?” tanya Reuben asal.
“Get a life,” sahut Dimas ketus, “nggak ada kerjaan amat,
sih.”
“Oke, oke, ganti pertanyaan. Mungkin yang tadi terlalu
sulit,” Reuben malah keterusan. Ia paling senang memper-
olok Dimas. “Coba, yang ini. Siapa nama model sampul
de pannya?”
“Ha! Kalau itu, sih, aku tahu. Namanya Diva. Semua
orang juga tahu, kali. Yah, tentu saja, kecuali kamu.”
“Biarin. Dia, kan, bukan presiden.” Reuben mengang kat
bahu, tak acuh. Dalam hati ia bertanya-tanya, sekuper itukah
dirinya?
“Dia cantik sekali, ya.”
Reuben terkekeh. “Kalau dia mau sama kamu, kamu ba-
kal berubah jadi hetero, nggak?”
187

