Page 199 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 199

KEPING 17


             “Mungkin,” Dimas nyengir, “kamu?”
             “Nggak.” Tapi, nada itu terdengar ragu.

             “Yakin?”
             “Kecuali, mmm, kalau dia sepintar si Bintang Jatuh,” ja-
           wab Reuben, malu-malu.
             “Ini gawat. Kita bisa pensiun jadi homo.”





           Rana


           Gita memandangi wajah gelisah sahabatnya. Ia kenal Rana
           sejak SMA, dan belum pernah dilihatnya Rana seperti ini.

           Perempuan yang dulu tegar dan selalu ceria. Sekarang, se tiap
           kali mereka bertemu, pasti selalu diakhiri dengan mata me-
           rah, bengkak, dan ingus yang tak henti-hentinya mengalir.
             “Dadaku sering sesak lagi sekarang,” keluh Rana.
             “Itu gara-gara kamu stres. Seharusnya kamu tahu risiko

           keputusanmu jatuh cinta.”
             Rana tersenyum tawar. “Andaikan benar keputusan itu
           ada di tanganku.”
             “Perceraian bukan hal yang simpel, Rana.”
             “Tapi, kan, aku tidak akan menuntut apa-apa dari Arwin.
           Bawa badan saja jadi,” Rana terisak lagi.
             “Kalau soal finansial, aku nggak akan meragukan Ferre-

           mu. Tapi, memangnya kamu siap? Menghadapi ke luargamu,
           keluarganya, lingkungan kerjamu, orang-orang lain. Ferre itu


           188
   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204