Page 212 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 212
Cyber AvAtAr
tidak menarik perhatian seorang Super nova. Omong kosong,
umpatnya geram. Mungkin psikopat itu tidak lebih dari
filsuf arogan yang berdiri di atas awan, lalu main tunjuk
sana sini mengecam kesalahan dunia. Sementara jeritan hati
yang riil malah tidak dianggap ada.
Hei, Supernova. Siapa pun kamu sebenarnya, kamu tidak
lebih dari sebongkah kesombongan. Sebongkah
ketidakpedulian. Bisanya cuma ngomong tinggi. Saya dan
masalah saya cuma kamu anggap remah-remah kue,
sementara kamu sibuk melalap potongan kue yang lebih
besar. Kamu munafik! Sama munafiknya dengan orang-
orang atau institusi yang kamu tuding-tuding. Kamu pikir
kamu itu siapa? Dan, apa kekuranganku sampai tidak layak
kamu dengar?
Tidak juga ada balasan.
Kemarin, Rana pun mengirimkan surel terakhirnya. Surel
tak berjudul. Dan, ia pun sudah tidak tahu apa yang harus
ia tulis.
Aku lelah. Apa artinya ini semua? Apa artinya aku di sini,
mempertanyakan kebodohan-kebo dohanku sendiri? Apa
artinya kau di sana, yang tidak mendengarkan?
Malam ini, tidak ada yang lebih mengagetkannya ke tika
sebuah pesan datang, hanya:
201

