Page 216 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 216
Tsunami HaTi
semalam suntuk. Tapi, kenapa jadinya harus mencurigakan?
Kenapa harus tampak tidak wajar? Kenapa aku tidak boleh di
sini? Lé, tolong....
“Pak Ferre. Kok, masih belum pulang? Tunggu teman,
ya?” Seseorang menyapanya.
Re terkejut. Ternyata salah satu reporter kolega Rana,
memandang dengan tatapan haus gosip.
“Oh, saya baru mau pulang. Kebetulan tadi sekalian me-
nengok teman saya di blok D,” jawab Re dengan te nang. Tak
akan ia kehilangan wibawanya, bahkan dalam situasi genting
seperti ini. Tidak juga kedoknya.
Satu jam kemudian, dua orang berlalu dan menanya kan
hal yang sama.
Tiga jam kemudian, hanya perawat-perawat yang me le-
watinya dengan tatapan curiga. Terkadang kerabatnya Rana,
yang juga menatap aneh. Mungkin mereka menge nalinya
sebagai salah seorang pembesuk Rana yang dengan misterius
bercokol terus seperti satpam rumah sakit.
Memasuki jam yang keempat, suaminya berjalan melin tas.
Re tidak yakin keberadaannya disadari atau tidak. Yang jelas,
wajah pria itu tampak letih.
Re jadi tersadar, mukanya sendiri pasti lebih kacau lagi.
Setidaknya suami Rana tidak menghadapi cobaan se lain
kondisi istrinya.
Aku tak mengenalmu, kita bukan teman.
205

