Page 215 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 215
KEPING 19
napas untukmu.” Sulit dipercaya kalau rayuan metaforis itu
harus menjadi kenyataan.
“Ada apa? Apa kata dokter? Kamu harus dioperasi lagi?”
“Jantungku. Katanya, aku jatuh cinta. Terlalu dalam.”
Terdengar Rana tertawa kecil.
“Putri, jangan main-main....”
Tiba-tiba suara itu berubah sedikit panik. “Re, aku nggak
bisa telepon lagi. HP-ku akan dipegang Arwin. Doakan saja,
ya.”
Pembicaraan berhenti sampai di sana. Meninggalkan Re
dalam tsunami hati.
Lama ia terdiam di gerbang rumah sakit. Resah, dan mu lai
salah tingkah. Tidak pernah ia setersiksa ini. Re meraih
ponselnya, dan dengan tatapan kosong ia memencet no mor
telepon Alé. Tidak disambungkan. Ia hanya bicara sendiri di
dalam hati.
Alé, tolong aku. Aku cuma bisa menemuinya lima menit, itu
pun bersama sembilan orang lain. Aku tak tahan dengan tatapan
orang-orang yang seperti mempertanyakan keber adaanku di situ.
Lima menit, Lé! Melihatnya tergolek tanpa bisa memeluknya.
Aku cuma bisa bilang “semoga cepat sem buh” dan mesem-mesem
dari ujung tempat tidur. Aku ingin terus di sini, menungguinya
204

