Page 214 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 214
KEPING 19
Tsunami Hati
ukul sebelas siang. Teleponnya berdering. Re me-
P ngerutkan kening.
“Halo? Bisa telepon nanti? Saya mau meeting se-
bentar lagi.”
“Re,” suara Rana begitu lemah, berbisik lirih, “aku ma suk
rumah sakit.”
Wajahnya seketika pucat. “Bukan jantungmu, kan?” tanya
Re tegang.
“Jantungku, Sayang.” Suara lemah itu kian mengibakan.
Di dekat belahan dadanya, Rana memiliki bekas jahitan
operasi. Re sering menyentuh bekas jahitan tersebut dan ber-
kata, “Kalau ada apa-apa dengan jantung ini, aku rela ber-

