Page 84 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 84

Bintang Jatuh

              “Thanks.”
              “Honor kamu bisa diambil besok. Jam makan siang, oke?”

              “Sip.”
              “Pulang dengan siapa kamu?”
              Diva mengangkat bahu. “Taksi, mungkin. Sopir saya sa-
           kit, saya malas bawa mobil.”
              “Mau diantar?” Risty berbasa-basi. Mana ada yang be tah

           berlama-lama dengan gadis itu. “Tapi, kalau mau, tunggu
           saya membereskan urusan dengan orang-orang di belakang
           dulu.”
              “Nggak usah. Saya duluan, Mbak.” Diva tersenyum ce pat,
           langsung pergi.
              “Diva!” panggil Risty lagi. “Jangan lupa juga besok siang,
           ya. Sori, tapi itu direct order dari atas,” ujarnya de ngan gerak-
           an menunjuk langit. Ada kepuasan di senyum nya.

              Diva melihat itu dengan jelas. Dia memang target em puk
           untuk diberi pekerjaan konyol, jadi juri kontes pe ragaan
           busana anak-anak yang disponsori agency-nya. Itu namanya
           di kerjai. Namun, ia terlalu malas untuk protes.
              Sekeluar dari kafe itu, alarm ponselnya berbunyi. Ter ingat

           janjinya, Diva mengeluh. Risty benar, ia memang pikun. Un-
           tuk itulah ia membutuhkan teknologi, sekadar jadi pembatas
           buku dari halaman-halaman waktu. Meng ingatkannya akan
           sampah-sampah yang tidak pernah mau ia ingat, tetapi harus
           tetap dikerjakan.





                                                                  73
   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89