Page 83 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 83
KEPING 7
Diva laku keras. Peragawati dan model papan atas. Hanya
mau muncul untuk acara besar-besar dan majalah-majalah
bonafide. Tak pernah mau dibayar murah. Tak mengenal
istilah acara amal. Tapi, ia memang sangat profesional. Tak
pernah mengeluh dan selalu tepat waktu. Bagai polimer elas-
tis, ia juga amat mudah diarahkan.
Malam itu, diiringi pandangan penuh tanya dan iri se-
sama rekannya, Diva berjalan ke depan bersama sang De-
sainer.
Sejujurnya, Diva tidak pernah suka tempat seperti ini.
Tidak ada yang ramah dan menyenangkan dari mata-
mata liar yang menjalari tubuh dan melalap kaki jenjang nya.
Mereka semua seperti hewan buas yang seharian baru di-
rantai dalam kandang sempit dan kini dilepas. Tak tahu cara
menangani kebebasan.
Getaran-getaran pikiran kotor produk pengerdilan men tal
seperti itu memang tak henti-hentinya menodai udara. Diva
merasakan gerahnya, tapi terlalu bosan untuk peduli. De-
ngan menyandang tas besar, ia menerobos kerumunan orang
yang tengah meliuk-liuk bagai kumpulan lidah api sedang
membakar diri mereka sendiri.
“Diva!”
Risty, agennya, berlari-lari sambil mengacungkan kan tong
sepatu. “Sepatu kamu! Pikun amat, sih? Ketinggalan me lulu.”
72

