Page 185 - In a Blue Moon
P. 185
kan pesta lewat tengah malam, Lucas dan Miranda masih
ada di sana, mengobrol dengan beberapa orang. Sophie tidak
ingin mengganggu obrolan mereka, tetapi ia juga tidak ingin
pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa. Jadi ia terus
menatap Lucas dan berharap Lucas menoleh ke arahnya.
Harapannya terkabul. Seolah-olah menyadari tatapan
Sophie, Lucas menoleh dan langsung menatap Sophie dari
seberang ruangan. Alisnya terangkat, bertanya. Sophie terse-
nyum canggung, lalu mengangkat tangan kanannya sedikit,
mengucapkan selamat tinggal. Aku harus pulang sekarang,
gumam Sophie tanpa suara, berharap Lucas memahami ge-
rakan mulutnya.
Sepertinya Lucas mengerti, karena laki-laki itu tersenyum,
mengangkat gelas sampanyenya, dan mulutnya bergerak
183
membentuk kata oke.
”Dia tunanganmu.”
Suara Alison menyentakkan Sophie kembali ke masa kini.
”Hm?” gumamnya sambil menyesap tehnya.
”Dia tunanganmu,” desak Alison. ”Kalau dia mencintaimu,
dia pasti akan langsung datang begitu kauminta.”
Oh, anak-anak remaja dan khayalan mereka yang idealistis,
batin Sophie sambil menyesap tehnya. Ia tidak mengoreksi
Alison yang menganggap Lucas Ford sebagai tunangannya
karena ia telah mencoba mengoreksinya berkali-kali tanpa
hasil.
”Undang saja dia, Sophie,” timpal salah seorang relawan
yang sedang berada di dapur saat itu. ”Dia sudah berbaik
hati mengajar kita membuat sandwich yang sangat lezat hari
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 183 3/30/2015 10:43:22 AM

