Page 10 - Supernova 4, Partikel
P. 10

2 0 0 3


                                                        Bolivia





        D    ALAM lembaran faks yang sudah mengeriput itu tertulis ZRH. Kode untuk Zarah. Aku.
             Brad to Borneo. Itu nama proyeknya. Kulit keningku ikut berkerut, otakku menelusuri

        perbendaharaan nama selebritas yang kupunya.

          “Brad—the ‘If’ song? How old are these people now? Mereka bukan mau tur keliling
        pabrik LNG di Bontang, kan?” tanyaku bingung.

          Zach, yang menyerahkan lembar faks tadi, berusaha keras mencerna komentarku, baru
        kemudian terpingkal-pingkal. “That’s Bread, you moron,” serunya. “This is BRAD. The
                                        st
        sexiest Homo sapiens of 21  century. God, you’re so pathetic!”
          Valerie  Wilkes,  profesor  muda  dari  Departemen  Geosciences  di  Massachusetts
        University yang baru dua hari bergabung dengan kami—masih bau kopi Starbucks, kalau

        kata Zach—langsung membelalakkan mata. “PITT?” Valerie melengking. “Brad fucking
        Pitt?”

          Aku merenung sejenak. Berusaha mengingat-ingat yang mana.

          Zach  roboh  ke  tanah  dan  tertawa  terguling-guling  melihat  pemandangan  itu.  Antara
        Valerie yang rela kencan dengan sepuluh orangutan demi masuk ke short list pendamping
        WWF yang secara berkala memboyong selebritas Hollywood masuk hutan, dengan aku
        yang  berkali-kali  ditawari  ikut  tapi  selalu  menolak  tanpa  tahu  apa  yang  sebenarnya
        kulewatkan.  Tahun  lalu,  mereka  membawa  Julia  something—Roberts?  Lupa  lagi.  Zach

        membodoh-bodohiku  selama  sebulan  karena  ia  sendiri  rela  melakukan  apa  saja  demi
        memotret senyum maut Julia di pagi hari. Seakan-akan panjang gigi perempuan itu bakal
        bertambah atau berkurang seinci, tergantung sinar matahari.

          “Oh, please, Zach. Jangan mentang-mentang saya native,” ujarku. “Masih banyak orang
        lain di Indonesia yang sama kompetennya.”

          “Bukan karena kamu native,” Zach berkata dengan intonasi bijak yang membuat aku
        semakin tidak percaya, “tapi karena kamu yang terbaik.”

          “Yeah, right.” Aku menjulurkan lidah. Bujukan basi. Bukannya kami akan menyelidiki

        manusia  berekor  atau  apa.  Ini,  toh,  proyek  promosi.  Tidak  lebih.  Hollywood  memang
        amplifier raksasa dan strategis bagi suara kami ini. Peranku sendiri tidak berarti banyak.
        Tabir surya SPF +50 dan makanan kaleng impor barangkali lebih penting bagi seorang
        Brad daripada kehadiranku.

          Lebih baik aku tenggelam di sini, Madidi, Taman Nasional Bolivia seluas sembilan belas
        ribu kilometer persegi, berlokasi di salah satu negara termiskin di Amerika Selatan, tapi
        bisa jadi yang terkaya dalam soal koleksi spesies flora fauna. Harta sejati. Fred Dunston,
        temanku  dari  Wildlife  Conservation  Society,  meyakinkanku  berkali-kali  bahwa  Madidi

        mengerdilkan  koleksi  flora  dan  fauna  Taman  Nasional  Manu,  primadonanya  Amazon,
   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15