Page 14 - Supernova 4, Partikel
P. 14

Saat  jadi  mahasiswa,  Ayah  tak  pernah  lupa  tugasnya  sebagai  tangan  kanan  Abah.
        Bersama Ayah di sisinya, visi Abah masuk ke jalur cepat. Pertanian di Batu Luhur maju
        pesat karena berhasil ditekan biayanya. Ayah menemukan cara untuk mengadakan pupuk
        dan obat-obatan sendiri. Ia mendayakan ibu-ibu untuk mengumpulkan semak kirinyuh dan
        sampah-sampah organik, lalu membangun mesin-mesin pengolah kompos dengan tenaga

        kayuh.  Di  sebuah  gubuk,  ratusan  kilogram  kompos  dan  berjeriken-jeriken  pupuk  cair
        dihasilkan setiap bulannya.

          Untuk  penangkal  hama,  Ayah  meminta  masyarakat  menanam  pohon  mimba sebanyak
        mungkin.  Sebagian  besar  ditanam  mengelilingi  ladang,  diselang-selingi  kembang  tahi
        kotok.  Ayah  bilang,  tanaman-tanaman  itu  mengusir  serangga  pengganggu  secara  alami.
        Jika  dibutuhkan,  baru  ia  membuatkan  ekstrak  dari  air  daun  dan  biji  mimba  untuk

        disemprotkan ke ladang. Sisanya dipakai untuk pemakaian antiseptik rumah tangga.
          Kampung juga tidak pernah dilanda krisis pangan. Mereka tak tersentuh kasus kurang

        gizi karena Ayah mengimbau setiap rumah menanam pohon kelor yang kaya nutrisi dan
        tak  kenal  musim.  Sayur  daun  kelor  adalah  makanan  sehari-hari  di  Batu  Luhur,  seperti
        kebanyakan orang mengonsumsi bayam atau kangkung.

          Batu  Luhur  tidak  pernah  kekurangan  air.  Bogor,  kota  bercurah  hujan  tertinggi,
        dimanfaatkan  Ayah  dengan  merancang  penampungan  air  hujan  yang  disambungkan  ke
        sebuah reservoir. Di penampungan itu, air hujan difilter dengan biji kelor, kerikil, dan ijuk,
        hingga setiap tetes air yang dihasilkan layak minum.


          Begitu ada perkembangan tanaman obat terbaru, Ayah langsung menginformasikannya
        kepada  warga  dan  menyuruh  mereka  mengembangbiakkannya.  Hasil  panen  dari  Batu
        Luhur lantas ia salurkan kepada produsen obat-obatan herbal. Tanaman obat yang sedang
        ramai  dicari  orang  selalu  dihargai  mahal.  Tambahan  pendapatan  dari  tanaman  obat  itu
        sebagian digunakan Ayah untuk membangun balai bermain dan taman bacaan anak-anak
        kampung.


          Abah Hamid dan Firas adalah dua nama sakral yang diagungkan oleh kampung kecil
        bernama  Batu  Luhur.  Dua  sosok  karismatik  yang  berhasil  memajukan  kampung  tanpa
        pamrih. Hati setiap warga terpincut. Tak terkecuali ibuku.




        Setelah  beranjak  dewasa,  Ayah  tidak  selalu  tinggal  di  rumah  Abah.  Ia  lebih  memilih
        rumah  kontrakan  bersama  teman-teman  kampusnya  atau  menginap  berhari-hari  di  Batu
        Luhur.  Jarak  itulah  yang  akhirnya  memungkinkan  Ibu  melihat  pemuda  bernama  Firas

        tidak  lagi  sebagai  kakak  angkat.  Ia  mengidolakan  Ayah  habis-habisan.  Gagah,  cerdas,
        berdedikasi,  Ayah  adalah  sosok  sempurna  dengan  masa  depan  cerah.  Dan,  ternyata
        cintanya bersambut. Kecantikan dan kesantunan gadis bernama Aisyah mampu menggeser
        persepsi adik angkat di mata Ayah. Jadilah mereka sepasang kekasih.

          Itulah  pemberontakan  pertama  Ayah  kepada  Abah  dan  Umi.  Secinta-cintanya  mereka
        kepada  Ayah,  Abah  dan  Umi  tetap  melihat  pemuda  bernama  Firas  dan  gadis  bernama
        Aisyah sebagai dua saudara kandung. Bagi mereka, itu adalah hubungan inses yang tak

        pantas. Aib.
   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19