Page 11 - Supernova 4, Partikel
P. 11

menjadi seperti Taman Safari Bogor. Fred sengaja membuat analogi menggunakan tempat
        dari kampung halamanku agar aku lebih paham. Ironisnya, belum pernah kukunjungi yang
        namanya Taman Safari Bogor itu.

          Begitu ada tawaran pergi ke Bolivia, aku mengepak tasku tanpa berpikir. Padahal, baru
        seminggu  lalu  aku  berangkat  dari  Bandara  Entebbe,  pulang  ke  London,  markas  besar
        sekaligus tempatku bermukim. Sejak lama aku sudah membidik Madidi. Namun, karena

        sempat  ditahan  oleh  The  Journal  of  Infectious  Disease  yang  selalu  haus  data,  plus
        menyambi  untuk  WHO  yang  selalu  kekurangan  orang  gila  untuk  ditempatkan  di  mana
        saja,  akhirnya  tiga  bulan  terakhir  kuhabiskan  waktuku  di  Uganda,  mendokumentasi
        epidemi virus Ebola.

          Tentu saja, bukan mataku yang ada di belakang mikroskop. Mataku berada di belakang
        lensa  kamera.  Tak  jarang,  tanganku  ikut  membabati  belukar  setiap  tim  kami  menyusur
        hutan Bwindi. Dalam lambung hutan tropis, tak jarang status manusia menciut menjadi

        kutu  yang  tersesat  dalam  liukan  bulu  biri-biri.  Tidak  cuma  predator  seperti  singa  yang
        perlu diwaspadai, tetapi juga rimba mikroba yang tak kelihatan itu.

          Manusia sudah ber-evolusi terlalu jauh meninggalkan alam, membentengi dirinya sejak
        bayi dalam tembok-tembok semen dan lantai  buatan.  Kulit  manusia  terbiasa  dibungkus
        rapat  hingga  alergi  debu  atau  rentan  pusing  ketika  kehujanan.  Semua  terlalu  licin  dan
        steril. Tidak heran kulit kami berlubang-lubang di sini. Manusia telah ber-evolusi menjadi
        patung lilin.


          Zach merangkulku sambil mengiringiku berjalan.

          “Zarah, saya dan Paul sempat ngobrol-ngobrol tentang kamu dan pencarianmu….”

          Otakku dengan cepat merangkai. “Cro-Mag was in this, too? I should’ve known. Sheesh,
        Zach,”  aku  menepis  lengannya.  “Bukan  saya  yang  harusnya  ke  Kalimantan,  kan?  Ini
        jebakan Paul!”

          “Missy, kamu harus segera berkemas.” Paul Daly, pemimpin tim kami, tiba-tiba muncul
        dari  samping,  menjajari  langkahku  dan  Zach.  Dengan  ringan,  Paul  membenamkan
        kepalaku  di  kepitan  ketiaknya.  Usiaku  dan  Paul  terpaut  sepuluh  tahun.  Badanku  yang

        tingginya  172  sentimeter  seperti  bonsai  jika  berada  di  sebelahnya.  Entah  karena  alasan
        yang pertama atau kedua, Paul menganggapku adik kecilnya sejak kami berteman. Dia
        kerap  memanggilku  “Missy”.  Kami  menjulukinya  “Cro-Mag”  karena  jika  ada  manusia
        modern yang wujudnya mendekati prototipe Cro-Magnon, itulah Paul.

          “No, no, no,” aku berontak dari dekapannya. “I’m not going.”

          “Kamu nggak kangen rumah, apa?” balasnya polos.

          Mulutku sampai ternganga. Tidak terima pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Paul.
        Pria  ini  sudah  seperti  abangku  sendiri.  Ia  tahu  persis  aku  tak  punya  “rumah”  yang  ia

        maksud.

          “Ah, come on, Missy. It’s been what—ten years? Eleven?”

          “Twelve. But that’s not the point.”
   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16