Page 13 - Supernova 4, Partikel
P. 13

bisa bersepeda ke Batu Luhur. Di kampung itu, keluarga kami diperlakukan bak raja.

          Semua diawali oleh kakekku. Hamid Jalaludin. Pria keturunan Arab, bertubuh tinggi dan
        gagah.  Berdiri  di  sebelahnya  seperti  dinaungi  pohon  besar  yang  kokoh.  Kulitnya  yang
        putih  membuat  cambang,  kumis,  dan  alisnya  mencuat  kontras.  Entah  itu  penduduk,
        kerabat, anak, atau cucu, kami semua serempak memanggilnya Abah.

          Abah adalah tokoh yang amat dihormati di Batu Luhur. Aku tak tahu persis bagaimana

        Abah  yang  orang  Arab  dan  bukan  asli  Jawa  Barat  akhirnya  bisa  menetap  di  sana.
        Membaur dengan penduduk dan fasih berbahasa Sunda. Ibu hanya pernah bercerita sekilas
        bahwa awalnya Abah sudah lama bermukim di Kampung Arab di daerah Cisarua. Sejak
        muda,  Abah  sudah  ingin  mengabdikan  diri  pada  misi  syiar  agama.  Ia  sudah  sering
        dipanggil menjadi penceramah di daerah Bogor dan sekitarnya. Namun, di Batu Luhur-
        lah, Abah menemukan rumahnya.

          Seiring waktu, Abah menjadi tokoh agama sekaligus tokoh ekonomi di Batu Luhur. Di

        sana,  ia  membina  pesantren  rumahan.  Ia  mendorong  penduduk  kampung  agar  punya
        industri kecil, tidak cuma bergantung pada hasil bumi. Abah disejajarkan dengan kaum
        sesepuh yang punya suara penentu atas masa depan Batu Luhur.

          Berbeda dengan Abah yang pendatang, Ayah adalah anak asli Batu Luhur. Ia anak yatim
        piatu yang diadopsi Abah dan Umi, sebelum akhirnya lima tahun kemudian mereka punya
        seorang anak perempuan kandung bernama Aisyah. Ibuku.

          Orangtua  kandung  Ayah  meninggal  dalam  kecelakaan  bus.  Ayah  sempat  diurus  oleh
        neneknya  yang  sakit-sakitan.  Tak  sanggup  lagi  mengurus  bayi,  nenek  kandung  Ayah

        membawanya ke pengajian. Berharap ada orang kampung yang bersimpati dan mengambil
        bayi itu. Dan, ternyata orang itu adalah Abah.

          Sejak Ayah masih bayi, Abah sudah melihat tanda-tanda khusus. Raut wajahnya tampan,
        matanya bersinar cerdas, perawakannya sehat meski agak kurus karena terputus ASI dan
        hanya diberi air tajin sebagai ganti. Abah yakin Ayah akan menjadi orang besar. Dengan
        restu  sang  nenek,  Abah  mengangkat  bayi  laki-laki  itu  menjadi  anak.  Ia  berikan  nama
        “Firas”, yang artinya kepekaan dan ketekunan.


          Ayah  tumbuh  besar  sesuai  dengan  ramalan  Abah.  Kepandaiannya  melampaui  semua
        anak di Batu Luhur. Akhirnya, demi menyediakan pendidikan yang sesuai bagi Ayah agar
        kecemerlangannya  tak  sia-sia,  Abah  dan  Umi  pindah  ke  Bogor  kota.  Abah  tetap
        menjalankan pengabdiannya sebagai pembina Batu Luhur. Ia berangkat ke sana setiap hari
        seperti orang berkantor.

          Bekas  rumah  Abah  di  kampung  diabadikan  oleh  masyarakat,  semata-mata  supaya

        keluarga kami selalu punya tempat singgah. Rumah panggung itu disapu dan dibersihkan
        setiap hari oleh ibu-ibu kampung secara bergantian. Bahkan, kasur-kasur kapuk di setiap
        kamar masih tetap berseprai.

          Pengorbanan Abah pindah ke kota pun tidak sia-sia. Ayah melewati masa sekolahnya
        dari  satu  beasiswa  ke  beasiswa  lain.  Puncaknya,  ia  diterima  di  Fakultas  MIPA  Institut
        Pertanian Bogor tanpa tes.
   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18