Page 12 - Supernova 4, Partikel
P. 12

“Listen.” Paul menarik tanganku, pergi menjauh dari Zach dan keramaian base camp,
        lalu mendudukkanku di sebelahnya. Air mukanya berubah serius. “Please, don’t be mad at
        us. Kami tahu kamu pasti menolak. Tapi coba pikir, Zarah. Sudah dua belas tahun kamu
        mencari  dan  tetap  tidak  ketemu.  Mungkin  dengan  pulang  ke  rumah,  kamu  malah
        menemukan sesuatu.”

          “Dia tidak ada di sana. Kamu dan Zach boleh ikut mengantar saya pulang, lalu kita acak-

        acak satu Kota Bogor supaya kalian puas. Dia tetap tidak akan ada di sana,” aku berkata
        tegas.

          Paul menghela napas. Kehilangan argumen.

          “Saya  baru  dua  hari  di  Madidi,  and  I’m  not  gonna  let  you  blow  it!”  Bergegas,  aku
        melangkah meninggalkannya. Aku betulan marah, dan ekspresi Paul akan meluluhkanku
        jika dipandang sedetik lebih lama. Lebih baik pergi tanpa menoleh lagi.

          Orang-orang yang belum mengenal kami dengan baik pasti merasa aneh. Aku terlihat
        terlampau berani nyaris kurang ajar kepada atasanku sendiri. Kedekatanku dan Paul sudah

        seperti keluarga, dan seorang adik tentu masih bisa marah kepada abangnya sendiri.

          Paul  dan  Zach  seharusnya  lebih  cerdas.  Mereka  tahu  sejarah  panjangku  yang  tidak
        memercayai  manusia.  Dan,  mereka  termasuk  segelintir  manusia  antitesisku  selama  ini.
        Sudah seharusnya mereka lebih berhati-hati.

          Problemku terbesar adalah memercayai spesies Homo sapiens. Termasuk diriku sendiri.
        Padahal, manusia terlahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita
        ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Namun, di detik

        pertama kita meluncur keluar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya
        yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta. Aku penjudi yang buruk. Aku tak
        tahu kapan harus berhenti dan menahan diri. Ketika cinta bersinar gemilang menyilaukan
        mata, kalang kabut aku serahkan semua yang kumiliki. Kepingan rasa percaya bertaburan
        di atas meja taruhanku. Dan, aku tak pernah membawa pulang apa-apa.

          Rasa percaya itu menghilang dalam tiga pertaruhan besar. Pertaruhan pertamaku amblas
        di tangan manusia pertama yang kucinta di muka bumi ini: Ayah.

          Bila setiap anak diajari untuk mencintai kedua orangtuanya sama besar, dengan sangat

        menyesal aku harus mengakui bahwa cintaku menggunakan peringkat. Ayahku menduduki
        peringkat pertama. Ia adalah dewa. Aku ini anak blasteran dewa. Sejenis Hercules.





                                                   1 9 7 9 – 1 9 9 6


                                                         Bogor




        Kami tinggal di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung kecil bernama Batu Luhur.
        Meski  sudah  ditawari  sebuah  rumah  dosen  di  dekat  kampus  Institut  Pertanian  Bogor

        tempatnya mengajar, Ayah memilih tetap tinggal di rumah lama kami, di mana ia masih
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17