Page 15 - Supernova 4, Partikel
P. 15

Ayah  tak  peduli.  Ia  malah  menghabiskan  semua  tabungannya  demi  menghadiahkan
        rumah  kecil  sebagai  tanda  keseriusan  cintanya  kepada  Ibu.  Penduduk  Batu  Luhur  pun
        melihat hubungan Ayah dan Ibu sebagai kolaborasi ideal. Dua manusia unggul, Firas sang
        kebanggaan kampung dan Aisyah si kembang desa, mengapa dilarang bersatu?

          Keteguhan Ayah memilih Ibu dan dukungan warga Batu Luhur, akhirnya memaksa Abah
        dan Umi menyerah. Namun, mereka tidak pernah sepenuhnya menerima.


          Perlahan,  Abah  mulai  menarik  diri  dari  Batu  Luhur.  Ia  merasa  dikhianati.  Darah
        dagingnya, anak emasnya, dan ratusan warga yang ia besarkan berpuluh tahun, membuat
        persekongkolan besar. Aib kolektif.

                                                                                                               2.

        Kelahiranku dan adik perempuan kecilku, Hara, tidak terlalu banyak membantu. Sering
        kudapati  Abah  dan  Umi  memandang  kami  lama  dengan  tatapan  yang  bertanya-tanya.
        Barangkali mereka kebingungan harus bersikap apa dan merasa bagaimana kepada dua
        bocah hasil hubungan “inses” anak-anak mereka.


          Gigih, Ibu terus mencoba mendobrak tembok itu. Dialah manusia paling persisten dan
        konsisten yang pernah kukenal di dunia ini. Ia sanggup melaksanakan hidupnya laksana
        baris berbaris. Teratur, tertata, rutin.

          Hidup  Ibu  sepenuhnya  untuk  keluarga.  Kami  tidak  pernah  punya  pembantu.  Ibu
        mengurus  segalanya  dengan  baik.  Rumah  mungil  kami  selalu  resik,  lantai  selalu  licin
        mengilap,  semua  permukaan  furnitur  bebas  debu.  Baju-baju  kami  tersetrika  rapi  dan
        wangi. Dapur kami mengebul setiap pagi, meruapkan aroma aneka masakan. Tak jarang,

        Ibu  memasak  sambil  menggendong  Hara  dalam  balutan  kain  di  tubuhnya.  Makanan
        hangat selalu tersedia tiga kali sehari di meja.

          Tanpa alpa, kecuali jika sedang datang bulan, Ibu shalat lima waktu, menjalankan puasa
        setiap Senin dan Kamis. Setiap Rabu malam, Ibu pergi pengajian ke masjid atau ke rumah
        Bu Hasanah, seorang ustazah yang sangat dihormati di daerah kami. Setiap akhir pekan,
        Ibu mengajakku dan Hara mengunjungi Abah dan Umi. Ia percaya, dengan kegigihannya
        mendekatkan kami kepada kedua orangtuanya, suatu hari nanti Abah dan Umi akan luluh.

        Menerima kami sebagai cucu, juga kembali sepenuh hati menerimanya sebagai anak.

          Tidak selamanya upaya Ibu berhasil. Bagaimana cara Ayah membesarkan dan mendidik
        kami menjadi simpul ketegangan baru.




        Dari sebelum Hara lahir, Ayah mengambil alih tugas sebagai guru pribadiku. Belajar di
        rumah,  di  kebun,  di  kampung,  bahkan  curi-curi  membawaku  ke  kampus  tempatnya

        mengajar, adalah rangkaian sekolah informal yang dijalankan Ayah bagiku.

          Awalnya, semua mengira itu hanya sementara. Masih terbilang wajar seorang anak tidak
        dimasukkan ke taman kanak-kanak. Namun, ketika usiaku menginjak enam tahun, semua
        orang yang tadinya memuji-muji ketelatenan Ayah mulai bertanya-tanya. Terutama Umi
        dan Abah.
   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20