Page 244 - Supernova 4, Partikel
P. 244

kehidupan nyata, sebelah kaki terbenam dalam rahim Partikel.

          Tak mungkin rasanya menuliskan pengantar ini tanpa berterima kasih lebih dulu kepada
        mereka yang telah mendampingi saya. Suami saya, Reza Gunawan, dan kedua anak saya,
        Keenan  dan  Atisha.  Pendampingan  dan  cinta  kasih  merekalah  yang  sanggup  membuat
        saya bertahan dan tetap tersenyum pada hari paling melelahkan sekalipun.

          Terima kasih pula untuk Bentang Pustaka yang bersedia menjadi rumah baru bagi serial

        Supernova. Tim produksi yang telah mendukung saya bertahun-tahun, Fahmi Ilmansyah
        dan Irevitari. Semoga senantiasa tercipta kerja sama yang manis dan produktif di antara
        kita semua.

          Saya  juga  ingin  berterima  kasih  kepada  Paul  Stamets,  Graham  Hancock,  Andrew
        Collins, Daniel Pinchbeck, Dolores Cannon, Barbara Hand Clow, Drunvalo Melchizedek,
        Bob Frissel, Gregg Braden, Ralph Metzner, Gordon Wasson, Terrence McKenna, Albert
        Hoffman.  Mereka  adalah  orang-orang  yang  mewakili  berbagai  disipliner,  orang-orang

        yang  saya  tak  kenal  langsung,  tetapi  riset  dan  karya  mereka  adalah  pilar-pilar  yang
        menopang  Partikel.  Juga  untuk  Dr.  Birute  Galdikas,  yang  syukurnya  bisa  saya  kenal
        langsung,  atas  bukunya  yang  indah  (dan  penting),  Reflections  of  Eden,  yang  menjadi
        inspirasi salah satu babak utama dalam Partikel.

          Ada  satu  pihak  penting  yang  perlu  saya  sebutkan,  yang  entah  sayakah  yang  harus
        berterima  kasih  kepadanya  atau  sebaliknya.  Dua  belas  tahun  lalu,  saya  mengirimkan
        sebuah  niatan  kepada  semesta,  kepada  matriks  kehidupan,  apa  pun  sebutannya,  bahwa

        saya  ingin  menuliskan  buku  tentang  penelusuran  spiritual.  Dan,  lahirlah  manuskrip
        Supernova yang pertama. Dalam proses  kreatif  menuliskan  Supernova,  saya  menyadari
        satu hal yang kemudian mengubah persepsi saya selamanya terhadap inspirasi.

          Inspirasi  akan  memilih  inangnya.  Seperti  jodoh,  ketika  bertemu  dan  pas,  terjadilah
        perkawinan, dan muncullah entitas baru. Sebuah inspirasi memilih saya sebagai inangnya,
        dan lahirlah entitas berbentuk novel serial yang berjudul Supernova. Kekuatan yang sama

        membimbing saya untuk menulis episode demi episode dalam dinamika relasi yang kerap
        membuat saya bertanya: siapa menulis siapa?

          Yang jelas, saya tidak pernah merasa sendiri. Supernova adalah sebuah karya kolaborasi,
        antara  saya  dan  sesuatu  dalam  alam  abstrak  yang  ingin  menyampaikan  pesannya,
        suaranya.  Saya  hanyalah  medium  sekaligus  partner  yang  dipilihnya.  Karya  ini  adalah
        karya kami bersama. Dan, saya berterima kasih sedalam-dalamnya atas kesempatan itu.

          Masih ada lagi pihak dalam konstelasi ini, yang juga perlu saya sebut dan saya ucapkan
        terima  kasih.  Anda  semua,  para  pembaca.  Terima  kasih  atas  kesabaran  Anda  menanti.
        Terima kasih atas ketertarikan Anda pada buku ini. Sebagai seseorang yang percaya pada

        sinkronisitas, saya meyakini hadirnya buku ini di tangan Anda bukanlah kebetulan. Buku
        ini dan Anda bertemu untuk sebuah tujuan. Entah apa. Waktu yang akan mengungkap.





                                                                    Sampai bertemu di episode berikutnya,
   239   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249