Page 240 - Supernova 4, Partikel
P. 240

saja suara itu begitu empuk. Cocok memimpin kebaktian, Elektra menyimpulkan.

          Elektra menyalam tangan pucat itu. Kulitnya sangat halus. Pasti jarang cuci piring dan
        cuci baju, Elektra menuduh dalam hati.

          “Elektra.  Panggil  Etra  saja,”  balas  Elektra  dengan  senyum.  Sakit  kepalanya  makin
        menggila.

          Bong  ada  di  sofa  satunya  lagi.  Duduk  selonjoran  sambil  mengunyah  sedotan  plastik.
        Sementara Mpret berdiri sambil melipat tangan di dada laksana seorang pengawas.


          Elektra mengambil posisi di kursi beroda. Ia berdeham. “Sebenarnya, saya lebih nyaman
        kalau ditinggal berdua dengan yang mau terapi.”

          Bong dan Mpret saling lirik. Tak lama, mereka mengerti. Keluar dari ruangan dengan
        muka terpaksa.

          Tinggal mereka berdua. Elektra dan Bodhi. Duduk berhadapan. Gesture keduanya yang
        kaku mirip pasangan yang dipertemukan oleh biro jodoh dan kini terperangkap kencan
        buta perdana.

          “Apa yang bisa saya bantu?” Elektra membuka sesi itu.

          Bodhi  tidak  langsung  menjawab.  Ia  ingin  mempelajari  “dukun”-nya  terlebih  dulu.
        Elektra tampak jauh lebih muda daripada yang ia sangka. Jika mereka betul seumur. Anak

        itu seperti baru lulus SMP. Berperawakan mungil dengan rambut sebahu yang dikucir dua.
        Poninya rata menutup jidat. Sorot matanya ringan, jenaka. Ia mengenakan baju terusan
        bergambar buah ceri dengan dua kantong warna merah di bagian depan. Bodhi tidak akan
        kaget  kalau  di  satu  tempat  pada  tubuh  Elektra  ditemukan  tulisan  Made  in  Taiwan.
        Perempuan ini cocok dipajang di rak toko boneka.

          “Jujur saja, tadinya saya pikir saya nggak ada keluhan apa-apa. Ketemu kamu hari ini

        cuma permintaannya Bong. Dia bilang saya harus check-up.” Bodhi tersenyum.

          “Tadinya?” Elektra mengangkat alis. “Jadi, sekarang ada keluhan?”

          “Dari  semalam,  sejak  sampai  ke  sini,  kepala  saya  sakit  banget.”  Bodhi  mengurut
        pelipisnya. Sebelah kanan.

          Elektra tertegun untuk kali kedua. “Cuma yang kanan?”

          “Iya,” Bodhi mengangguk, “sampai mata saya susah dibuka.”

          Ludah Elektra tertelan seperti gumpalan duri.

          “Saya nggak suka banget kesetrum. Ada cara lain, nggak? Yang nggak pakai listrik?”

          “Aneh. Saya juga sakit kepala. Sebelah kanan. Dari tadi pagi waktu bangun.”

          Mendengar itu, Bodhi tertawa geli. “Jadi, kita diterapi siapa, dong? Bong?”

          Elektra berhenti sejenak menikmati ekspresi itu. Bodhi seketika berubah ketika tertawa.
        Ia tampak terang benderang. Sebelumnya, wajah itu mendung seperti sedang dirundung

        beban besar.
   235   236   237   238   239   240   241   242   243   244   245