Page 241 - Supernova 4, Partikel
P. 241

“Sejak  kapan  jadi—hmmm—terapis?”  Bodhi  bertanya.  Berusaha  menemukan
        terminologi yang tepat.

          “Baru setahun lebih. Masih junior.”

          “Bakat dari kecil?”

          “Sama sekali nggak.” Elektra terkekeh. “Waktu kecil bakat saya cuma tidur siang. Jago
        banget. Asli.”

          Bodhi ikut tertawa. “Saya juga jago molor dari kecil. Tapi, kok, nggak jadi suka listrik,

        ya?”

          “Saya juga tadinya nggak suka, kok. Padahal, almarhum bapak saya dulu tukang servis
        elektronik. Yang saya suka itu petir.” Lalu Elektra tergelak. “Lebih ngeri, ya?”

          Sesuatu  dalam  kalimat  Elektra  seperti  mengirim  setruman  kepada  Bodhi.  Ia  bergidik
        tiba-tiba. Teringat akan niatnya untuk kabur. Rasanya tak ada waktu yang lebih tepat untuk
        melakukannya selain sekarang.

          “Jadi, kapan-kapan saja terapinya, ya? Kalau kamu lagi sehat.” Bodhi bangkit berdiri.
        Kepalanya berdenyut semakin kencang.

          “Saya nggak sakit, kok,” sergah Elektra.


          Bodhi mengerucutkan bibirnya. Berpikir alasan apa lagi yang bisa membawanya keluar
        dari ruangan ini. Dan, Elektra bisa membaca itu.

          “Bodhi, kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Hal begini memang nggak bisa dipaksa.
        Anggap saja ini ngobrol-ngobrol. Senang bisa kenalan.” Elektra tersenyum, mengulurkan
        tangannya. Setengah mati mengencangkan otot mata kanannya agar ia terlihat normal.

          Perasaan tidak enak membersit di hati Bodhi. Sikapnya yang kentara enggan terasa tidak
        sopan.  Ia  jadi  merasa  bersalah  kepada  Elektra.  Tapi,  perempuan  berbaju  buah  ceri  itu
        benar. Hal seperti ini tidak bisa dipaksakan. Dan, Bodhi lebih suka jujur.


          “Thanks. Sori jadi ngerepotin. Sampai ketemu lagi.” Bodhi menyambut tangan Elektra.
        Dan saat kedua tangan mereka bertemu kali ini, keduanya roboh.




        Jemari itu bergerak, menggaruk karpet dengan gemetar. Kelopak mata Elektra perlahan
        membuka. Persis, di depan mukanya, ada muka Bodhi. Kelopak mata itu masih terpejam,
        tapi bola di dalamnya terlihat bergerak-gerak cepat.

          Elektra berusaha bangkit. Hal yang pertama terlintas adalah mensyukuri lantai ruangan

        ini dilapis karpet, cukupan meredam benturan sehingga badannya tidak terlalu nyeri. Hal
        kedua yang dilakukannya adalah melihat jam dinding.

          Tak  sampai  dua  menit.  Paling  lama  tiga.  Elektra  tercekat  ngeri.  Sementara  ia  merasa
        baru saja pulang dari perjalanan berjam-jam.

          Badan  Bodhi  mulai  bergerak.  Kelopak  matanya  membuka.  Susah  payah,  keduanya
        mencoba duduk.
   236   237   238   239   240   241   242   243   244   245   246