Page 239 - Supernova 4, Partikel
P. 239

paginya, menghirup secangkir tehnya, melamun, berlatih pernapasan. Dalam kesunyian.
        Dalam kesendirian. Sisa harinya ia harus berteman dengan kegaduhan dan menghadapi
        lalu-lalang ratusan manusia. Pagi hari adalah segalanya bagi Elektra.

          Akan  tetapi,  denyutan  kepalanya  terasa  sangat  mengusik.  Sudah  lama  sekali  Elektra
        tidak  minum  obat,  dan  hari  ini  ia  masih  belum  tertarik  menenggak  parasetamol  untuk
        sarapannya. Elektra mulai mengatur napas. Merasakan pusat sakit kepalanya. Membiarkan

        kesadarannya mengiringi setiap denyut.

          Sepuluh menit berlalu dan sakitnya tidak berkurang. Pintunya sudah keburu diketuk.

          “Masuk,” ucap Elektra setengah menghela. Momen menyendirinya bubar jalan sudah.

          “Tra, temannya Bong sudah datang. Dia nginap di sini semalam,” Mpret melapor. Dan
        tanpa basa-basi, Mpret mencomot selembar roti bakar yang disiapkan Elektra di meja.

          “Tumben  bangun  pagi,”  celetuk  Elektra,  “dan…  tumben  amat  mandi.”  Wangi  sampo
        meruap dari rambut Mpret yang masih basah. Wajahnya putih bersih tanpa kilap.

          “Udah mulai bau mujair,” sahut Mpret kalem. “Mata kamu kenapa?”

          “Nggak tahu. Kepala saya pusing. Banget.”

          “Kalau lagi nggak fit, jangan dipaksa.”


          Elektra  menggeleng.  “Temannya  Bong  sudah  datang  jauh-jauh.  Saya  nggak  apa-apa,
        kok.” Ia berusaha tersenyum, menutupi hantaman godam di kepala kanannya yang makin
        kencang.




        Pintu ruangan itu dibuka. Elektra, diiringi Mpret, melangkah masuk. Ruang beralas karpet
        yang dulunya dipakai sebagai rental Play Station itu sudah berubah menjadi kamar praktik
        Elektra. Hanya ada satu dipan berseprai krem, sebuah kursi beroda, dan satu sofa kecil.

        Cahaya matahari pagi menembus tirai putih tipis yang melapisi jendela.

          Elektra merasa mata kanannya masih pecak. Namun, ia bisa melihat jelas sosok yang
        duduk  di  sofa.  Tubuh  rampingnya  dibalut  kaus  hitam  polos,  sepatu  Converse  setengah
        betis  terlihat  dari  jins  sobek-sobeknya  yang  menggantung,  kepalanya  ditutup  bandana
        merah.  Satu  tangannya  yang  menopang  dagu  menunjukkan  sebulat  tato  di  pergelangan
        tangan dalam. Dan, ia menatap Elektra dengan sorot yang membuatnya tertegun.

          Sulit  ditentukan  suku  dan  ras  apa  wajah  di  hadapannya  itu.  Kulitnya  bersih,  langsat

        cenderung  pucat,  bingkai  matanya  bersudut  tajam,  alis  hitam  legamnya  terbentuk  rapi,
        bulu matanya panjang dan lentik, bibirnya merah. Garis wajah yang condong feminin itu
        menimbulkan kesan androgini. Yang jelas, Elektra tidak bisa menyimpulkan apakah laki-
        laki itu turunan Tionghoa seperti dirinya, atau asli Melayu, atau Indo, atau Arab, atau apa
        pun.

          Ia  bangkit  berdiri.  Ternyata,  ia  cukup  tinggi.  Elektra  harus  sedikit  mendongak  untuk
        menemukan matanya.

          “Hai. Bodhi,” sapanya sambil mengulurkan tangan. Dari sepotong penyebutan namanya
   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243   244