Page 243 - Supernova 4, Partikel
P. 243

Dari Penulis


        Delapan tahun bukan masa yang singkat. Selama itulah para pembaca Supernova menanti
        episode Partikel—kelanjutan dari episode Petir yang diterbitkan pada 2004. Selama itu

        jugalah  saya  menunggu.  Dalam  masa  delapan  tahun,  ada  empat  judul  buku  yang  saya
        produksi. Namun, Partikel terus membayangi. Menanti.

          Tak heran jika pertanyaan yang paling sering diajukan pembaca adalah: kapan Partikel
        terbit? Kenapa begitu lama? Sejak dulu ingin saya menjawabnya, tapi jawaban yang saya
        miliki  rasanya  belum  pernah  utuh.  Setelah  saya  melewati  proses  kreatif  Partikel,
        pemahaman saya pun melengkap. Jadi, izinkan saya menjawab pertanyaan itu.

          Embrio  Partikel,  diwakili  oleh  tokoh  utamanya,  Zarah,  selama  delapan  tahun  seolah

        dibekukan dalam laboratorium cryonic. Ia mulai dihangatkan kembali pada Juli 2011, saat
        saya mulai menyusun jadwal menulis intensif setelah peluncuran kumpulan cerita Madre.
        Dari  laboratorium  cryogenic  yang  beku,  Partikel  pindah  ke  sebuah  tempat  yang  saya
        juduli  “batcave”.  Semacam  gua  imajiner,  rahim  kreasi  nan  hangat,  tempat  saya
        menggodok,  menggarap,  mematangkan  ide  dan  mentransformasikannya  menjadi  kata-
        kata.

          Delapan bulan, Partikel bertumbuh dan mewujud. Delapan bulan, saya menyelam dalam

        semesta seorang Zarah Amala, nama yang artinya tak lain adalah “partikel cinta”. Dalam
        masa  menulis  intensif  itulah  saya  memahami  mengapa  Zarah  harus  menunggu  delapan
        tahun untuk menemui pembacanya.

          Semua  benang  yang  saya  perlukan  untuk  merajut  semesta  seorang  Zarah  adalah
        kumulasi pengetahuan, pengamatan, dan pengalaman. Jika saja Partikel dipaksakan untuk
        lahir sebelum ini, kemungkinan besar ia akan lahir prematur. Ketersediaan literatur serta
        fasilitas teknologi yang kini lebih mudah saya akses, memungkinkan riset saya berjalan

        lancar. Namun, yang lebih penting lagi adalah matangnya ketertarikan alamiah saya pada
        topik-topik yang dibahas dalam Partikel, yang dulu cuma saya kenali sepintas lalu. Tak
        terhitung pengalaman langsung yang perlu saya alami secara pribadi untuk menjadi “ibu”
        dari Partikel. Perkenalan saya dengan berbagai metode meditasi, tantra, trauma healing,
        Tibetan  mantra  healing,  Zen  Counseling,  mengubah  banyak  persepsi  saya  tentang
        konstruksi batin manusia dan apa yang selama ini kita anggap sebagai “realitas”. Tanpa
        mengalami semua, Zarah Amala tak akan genap menyampaikan kisahnya.


          Sama  seperti  semua  proses  kelahiran  sebuah  karya,  yang  selalu  diwarnai  tantangan,
        kesulitan,  kelelahan,  sekaligus  kebahagiaan,  pencerahan,  dan  kepuasan  tak  terhingga,
        demikian pula proses saya melahirkan Partikel. Volume informasi yang harus saya pilah
        dan pilih mengharuskan saya memetakan ulang dunia Zarah berkali-kali, sebuah proses
        yang  sangat  memakan  energi.  Laksana  pematung  yang  memahat  dari  kekosongan, inci
        demi inci kehidupan Zarah saya ukir dalam batcave. Kehidupan riil saya pun ikut kena
        imbas. Setahun terakhir saya menyatakan cuti kepada dunia pekerjaan non-menulis. Dan,

        meski saya bekerja di rumah, keluarga saya pun terpaksa beradaptasi dengan ritme kerja
        intens  yang  membuat  saya  seolah  hidup  di  dua  dunia.  Sebelah  kaki  menjalankan
   238   239   240   241   242   243   244   245   246   247   248