Page 9 - Edisi 141 Juni 2016 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 9

KH. Abdul Wahid Hasyim






                                                        Bagian 3


         Pokok Pemikirannya                   Dalam mengadakan perubahan terhadap   Dalam metode pengajaran, sekembalinya
         Sebagai seorang santri pendidik agama,   sistem pendidikan pesantren, ia membuat   dari Mekkah untuk belajar, Wahid Hasyim
        fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah   perencanaan yang matang. Ia tidak ingin   mengusulkan perubahan metode pengajaran
        peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam.   gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk   kepada ayahnya. Usulan itu antara lain agar
        Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut   itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai   sistem bandongan diganti dengan sistem
        Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan   berikut:                   tutorial yang sistematis, dengan tujuan untuk
        khususnya pesantren. Dari sini dapat dipahami,   •  Menggambarkan tujuan dengan sejelas-  mengembangkan  dalam  kelas  yang
        bahwa kualitas manusia muslim sangat   jelasnya                         menggunakan metode tersebut santri datang
        ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas   •  Menggambarkan cara mencapai tujuan itu  hanya mendengar, menulis catatan, dan
        jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani   •  Memberikan keyakinan dan cara, bahwa   menghafal mata pelajaran yang telah
        dibuktikan dengan tiadanya gangguan fisik   dengan sungguh-sungguh tujuan dapat   diberikan, tidak ada kesempatan untuk
        ketika berkatifitas. Sedangkan kesehatan   dicapai.                     mengajukan pertanyaan atau berdikusi.
        rohani dibuktikan dengan keimanan dan   Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam   Secara singkat, menurut Wahid Hasyim,
        ketakwaan kepada Allah yang kemudian   khususnya di lingkungan pesantren lebih   metode bandongan akan menciptakan
        diimplementasikan dalam kehidupan nyata.   berkosentrasi  pada  urusan  ukhrawiyah   kepastian dalam diri santri.
        Disamping sehat jasmani dan rohani, manusia   (akhirat),  nyaris  terlepas  dari  urusan   Perubahan metode pengajaran diimbangi
        muslim harus memiliki kualitas nalar (akal)   duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu,   pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal
        yang senantiasa diasah sedemikian rupa   pesantren didominasi oleh mata ajaran yang   ini merupakan kemajuan luar biasa yang
        sehingga mampu memberikan solusi yang   berkaitan dengan fiqh, tasawuf, ritual-ritual   terjadi pada pesantren ketika itu. Dengan
        tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam.  sakral dan sebagainya.     hal tersebut Wahid Hasyim mengharapkan
         Mendudukkan para santri dalam posisi   Meski tidak pernah mengenyam pedidikan   terjadinya proses belajar mengajar yang
        yang sejajar, atau bahkan bila mungkin   modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim   dialogis. Dimana posisi guru ditempatkan
        lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya   dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian   bukan lagi sebagai satu-satunya sumber
        menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia   diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang   belajar. Pendapat guru bukanlah suatu
        muda. Ia tidak ingin melihat santri   bersifat sosial dan pendidikan. Berkembangnya   kebenaran mutlak sehingga pendapatnya
        berkedudukan rendah dalam pergaulan   pendidikan madrasah di Indonesia di awal   bisa dipertanyakan bahkan dibantah oleh
        masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari   abad ke-20, merupakan wujud dari upaya   santri (murid). Proses belajar mengajar
        menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah   yang dilakukan oleh cendikiawan muslim,   berorientasi pada murid, sehingga potensi
        secara langsung membina pondok pesantren   termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa   yang dimiliki akan terwujud dan ia akan
        asuhannya ayahnya.                  lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam   menjadi dirinya sendiri.
         Pertama-tama ia mencoba menerapkan   beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan   Kiprah Sosial Kemasyarakatan dan
        model pendidikan klasikal dengan memadukan   dan perkembangan zaman.    Kenegaraan
        unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di   Apa yang dilakukan oleh Wahid Hasyim   Selain melakukan perubahan-perubahan
        pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut   adalah merupakan inovasi baru bagi kalangan   tersebut Wahid Hasyim juga menganjurkan
        dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai   pesantren. Pada saat itu, pelajaran umum   kepada para santri untuk belajar dan aktif
        perintis pendidikan klasikal dan pendidikan   masih dianggap tabu bagi kalangan pesantren   dalam berorganisasi. Pada 1936 ia mendirikan
        modern di dunia pesantren. Untuk pendidikan   karena identik dengan penjajah. Kebencian   IKPI (Ikatan Pelajar Islam). Pendirian
        pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan   pesantren terhadap penjajah membuat   organisasi ini bertujuan untuk mengorganisasi
        sumbangsih pemikirannya untuk melakukan   pesantren mengharamkan semua yang   para pemuda yang secara langsung ia sendiri
        perubahan. Banyak perubahan di dunia   berkaitan dengannya, seperti halnya memakai   menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini
        pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari   pantolan, dasi dan topi, dan dalam konteks   antara lain mendirikan taman baca.
        tujuan hingga metode pengajarannya.  luas pengetahuan umum.                                   (bersambung)



                                                                                              Majalah Komunitas Sabilillah   9
                                                                                           Edisi 141 / Juni 2016 / Thn: 07
   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14