Page 12 - Edisi 141 Juni 2016 | Majalah Komunitas LAZIS Sabilillah Malang
P. 12
Oleh:
Ust. Ahsan Subur
DALAH salah satu dari dua hari adalah boleh. Ya, merayakan hari raya tentang taqwa. Ubay berkata, “Apakah Anda
raya umat Islam. Hari ini dirayakan kemenangan karena kita berhasil pernah melewati jalan yang banyak durinya?”
Atepat setelah umat Islam selesai “mengalahkan diri sendiri” selama sebulan. “Pernah,” jawab Umar. Ubay bertanya
berpuasa Ramadan. Bagi para sahabat dan Jika mengerjakan yang halal saja tidak boleh kembali, “Bagaimana ketika Anda
ulama salafus shalih, akhir Ramadan (yaitu makan, minum, dan berhubungan melewatinya?” Umar menjawab, “Saya
merupakan momen yang sangat menyedihkan bagi suami istri), apalagi yang haram? Karena sungguh berhati-hati sekali supaya tidak
dan penuh air mata. Satu bulan yang sangat itu mari kita ingat-ingat kembali selama kena duri.” Ubay berkata, “Itulah arti taqwa
mulia, yang di dalamnya penuh dengan sebulan ini, adakah masih kita berbuat hal yang sebenar-benarnya.” Apakah setelah
keberkahan, tak terasa telah usai dan pergi yang haram? Meskipun hal yang haram selesai puasa Ramadan, kita menjadi semakin
setidaknya selama satu tahun. Itu pun jika tersebut secara hukum tidak membatalkan berhati-hati agar tidak berbuat dosa? Seberapa
umur masih mencapainya. Walaupun puasa (atau hal haram tersebut dilakukan mampu kita menjaga diri agar senantiasa
kepergian Ramadan penuh dengan nuansa di waktu berbuka), apakah esensi dari berpuasa memilih jalan yang selamat dan tidak tertusuk
kesedihan, namun merayakan hari raya dan mengalahkan diri sendiri tersebut sampai duri maksiat? Jika puasa tidak membuat
adalah kewajiban. Adalah hal yang sangat ke dalam hati kita? menjadi pribadi yang bertaqwa, apakah kita
umum terjadi di berbagai negara idul fitri Jika hal-hal seperti ini masih kita lalaikan termasuk yang disebut dalam hadis “Betapa
dirayakan dengan meriah. Sebagaimana di bulan Ramadan, apakah pantas bagi kita banyak orang yang berpuasa namun ia
sebuah perayaan, tentu kita harus menghindari untuk merayakan hari kemenangan? Atau, tidak mendapatkan dari puasanya tersebut
sikap berlebih-lebihan. Dikhawatirkan terlalu jangan-jangan kita hanya ikut-ikutan saja kecuali lapar dan dahaga.” (HR. At
terbuai dalam perayaan malah menghilangkan untuk memeriahkan hari raya tersebut? Kita Thabrani)? Astagfirullah…
esensi dari idul fitri itu sendiri. ingat-ingat kembali juga, apa tujuan kita
bersusah payah berpuasa selama sebulan? Mari diingat-ingat kembali tujuan kita
Hari Kemenangan Kalau kita memikirkannya murni pakai berpuasa, lalu mengevaluasi diri. Jika dirasa
Lumrah di negeri Indonesia bahwa idul logika, maka berpuasa itu tidak masuk akal. belum, bahkan terasa masih jauh, maka
fitri dipahami sebagai “hari kemenangan”. Manusia butuh kalori, butuh sumber energi berusahalah. Berusaha dan bermujahadah/
Hal ini dikarenakan masyarakat kita untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya. bersungguh-sungguhlah sebelum nyawa
menyebutnya sebagai “idul fitrah”, dan Kondisi kekurangan energi atau hipoglikemi mencapai tenggorokan.Di akhir bulan
diartikan sebagai “kembali ke fitrah”. Fitrah dalam waktu berjam-jam akan membuat Ramadan, saatnya kita perbanyak istigfar,
atau suci, yaitu ketika manusia bersih dari pekerjaan seseorang menjadi tidak efektif. perbarui tobat. Entah usia kita masih ada
segala dosanya karena telah Mungkin itu lah yang ada di dalam pikiran untuk Ramadan tahun depan atau tidak.
melaksanakan puasa Ramadan sebulan orang-orang tidak beriman yang memang “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang
sebelumnya. Sudah banyak artikel yang tidak mengerti. Bahkan seorang liberalis melampaui batas terhadap diri mereka
membahas mengenai makna idul fitri. Secara dengan angkuhnya bercuit “Mana bisa Allah sendiri, janganlah kamu berputus asa dari
bahasa “idul fithri” memiliki arti “hari raya mewajibkan puasa? Padahal fitrah manusia rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
makan” atau “hari raya berbuka”. Disebut itu kalau lapar ya makan, kalau haus ya mengampuni dosa-dosa semuanya.
demikian karena pada hari tersebut umat minum.” (naudzubillah). Orang-orang yang Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun
Islam tidak lagi berpuasa karena Ramadan menjalani hidup murni hanya menggunakan lagi Maha Penyayang.’” (Az-Zumar: 53)
telah selesai, malah diharamkan untuk logika tidak akan memahami makna iman.
berpuasa. Alasan utama umat Islam berpuasa ialah Terakhir sekali, saya pribadi sebagai penulis
karena diperintahkan oleh Allah. Disebutkan hanya berharap semoga apa yang telah saya
Menghayati Kembali Tujuan Satu Bulan dalam Alquran secara jelas dan benderang. tulis bisa mendatangkan sedikit manfaat
Berpuasa Namun, Allah memerintahkan makhluk-Nya bagi diri saya sendiri dan juga bagi para
Tapi jika memang masyarakat kita lebih untuk berpuasa dengan suatu tujuan. Apakah pembaca setia BULETIN LAZIS SABILILLAH.
suka mengartikannya sebagai “hari tujuan itu? Dan pada momen hari raya idul fithri ini
kemenangan”, maka kita mesti merenungi Ya, tujuan itu adalah agar kita bertaqwa. bila mana disana sini terdapat kesalahan
apa maksud dari kemenangan. “Menang” Pertanyaannya, setelah berpuasa selama kata – kata sehingga menyinggung para
diartikan bahwa kita mampu menahan diri sebulan, sudahkah kita menjadi insan yang pembaca setia BULETIN LAZIS SABILILLAH,
selama sebulan. Mengendalikan diri agar bertaqwa? Taqwa memiliki berbagai maka saya pribadi dan atas nama tim lazis
tidak melakukan hal-hal yang membatalkan pengertian. Suatu ketika Umar bin Khathab sabilillah mengucapkan “ minal ‘aidina wal
puasa walau hukum asal dari hal-hal tersebut pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab faizin mohon maaf lahir batin”.
12 Majalah Komunitas Sabilillah
Edisi 141 / Juni 2016 / Thn: 07

